Make your own free website on Tripod.com

BAB III

METODE PENELITIAN

 

A. Model Pengembangan

Berbagai tipe model pengembangan produk pengajaran pada umumnya berpendekatan linier (Atwi Suparman, 2001:34), proses pengembangan berlangsung tahap demi tahap secara kausal. Dalam kenyataannya proses pengembangan sesuatu produk akan selalu memperhatikan berbagai elemen pendukung maupun unsur-unsurnya sehingga akan terjadi proses yang rekursif.

Beranjak dari pertimbangan pendekatan sistem bahwa pengembangan asesmen tidak akan terlepas dari konteks pengelolaan maupun pengorganisasian belajar, maka dipilih model spiral sebagaimana yang direferensikan oleh Cennamo dan Kalk (2005:6). Dalam model spiral ini dikenal 5(lima) fase pengembangan yakni: (1) definisi (define), (2) desain (design), (3) peragaan (demonstrate), (4) pengembangan (develop), dan (5) penyajian (deliver).

Pengembangan akan dimulai dari kegiatan fase definisi (yang merupakan titik awal kegiatan), menuju keluar kearah fase-fase desain, peragaan, pengembangan, dan penyajian yang dalam prosesnya berlangsung secara spiral dan melibatkan  sebagai pihak-pihak calon pengguna, ahli dari bidang yang dikembangkan (subject matter experts),  anggota tim dan instruktur, dan pebelajar. Fase-fase kegiatan itu dapat disimak pada gambar 18 yang dikutip pada halaman berikut ini.

Pada setiap fase pengembangan, pengembang akan selalu memperhatikan unsur-unsur pembelajaran yakni outcomes, aktivitas, pebelajar, asesmen dan evaluasi. Proses pengembangan akan berlangsung mengikuti gerak secara siklus iterative (iterative cycles) dari visi definisi yang samar menuju kearah produk yang konkrit yang teruji efektivitasnya, sebagaimana yang direferensikan oleh Dorsey, Goodrum, & Schwen, 1997 (Cennamo & Kalk, 2005:7) yang dikenal dengan “the rapid prototyping process”.

Activities

 

Assessment

 
Target Diagram

Gambar 18

Lima Fase Perancangan Pengajaran Model Spiral diadaptasi dari

‘Five phases of instructional design’ dari Cennamo dan Kalk, (2005:6)

 

Keterangan :

                   Menunjukkan fase-fase pengembangan

                        Menunjukkan arah proses pengembangan

 

Pengembang dalam setiap fase pengembangan akan selalu bolak-balik berhadapan ulang dengan elemen-elemen penting rancangan pengajaran yaitu tujuan akhir, kegiatan belajar, pebelajar, asesmen dan evaluasi. Proses iteratifnya dapat digambarkan pada gambar berikut.

Evaluasi

 
Implementasi dari fase-fase itu dalam penelitian ini secara garis besar dibagi menjadi dua tahap pengembangan, yaitu (1) tahap pengembangan model, dan (2) tahap penerapan model. Pada tahap pengembangan model kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah operasionalisasi dari kegiatan pendefinisian masalah pengembangan (define), perancangan (design) dan kegiatan peragaan (demonstrate). Untuk tahap penerapan model meliputi dua kegiatan pokok yaitu (1) kegiatan pengembangan (develop), dan (2) penyajian model pengembangan (delivery). Rincian dan tolok ukur dari setiap kegiatan ini diuraikan pada sesi prosedur pengembangan dan pada uraian selanjutnya.

 

 

 


Kegiatan Belajar

 

Asesmen

 
Pyramid Diagram

 

 


Gambar 19

Elemen-elemen Yang Dipertimbangkan Dalam Proses Iteratif Pengembangan (Adaptasi dari Cennamo & Kalk, 2005:21)

 

Setelah dikaji dengan seksama model spiral ini ternyata dapat digunakan untuk berbagai model pengembangan, termasuk pengem-bangan asesmen, pola pengelolaan belajar maupun model pengorganisasian isi bahan belajar. Dengan berpedoman pada pola rekursif dalam model spiral ini dikembangkan model asesmen teman sejawat untuk kompetensi Akuntansi yang berlatar pengelolaan belajar secara kolaboratif.

 

B. Prosedur Pengembangan

Mengacu pada model pengembangan yang dipilih, prosedur dari rangkaian tahapan yang akan dilalui untuk mencapai tujuan pengembangan ini sebagaimana telah disebut di muka dibagi dalam dua gugus kegiatan yakni: (1) tahap pengembangan model, dan (2) tahap penerapan model.

Prosedur-prosedur dalam tahapan pengembangan ini (lihat Gambar 20 halaman 165) dapat diuraikan sebagai berikut :

 

1. Tahap Pengembangan Model

Dalam tahap pengembangan model ini termasuk unsur kegiatan fase definisi, desain dan peragaan prototipe yang mencakup sasaran pengembangan dengan kegiatan mencari dan mengidentifikasi   kejelasan   informasi   obyek   asesmen   kemampuan pemecahan masalah Akuntansi dalam proses belajar kolaboratif atau melakukan analisis kebutuhan (need assessment).

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengidentifikasikan, pertama, jenis kompetensi Akuntansi yang dibutuhkan oleh mahasiswa sebagai bekal kelak terjun ke sekolah; dan kedua, mengidentifikasikan pengalaman praktek evaluasi kuliah yang dirasakan saat menempuh kuliah guna memformulasikan model asesmen yang sesuai dengan kebutuhan.

Setelah tahap need assessment atau studi pendahuluan, dilanjutkan kegiatan pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan yakni (1) memilih metode asesmen dan membuat rancangan pengembangan model asesmen, (2) mengidentifikasi aktivitas fisik usaha pebelajar tentang proses kerja pemecahan masalah, dan memilih serta mengembangkan strategi pengelolaan belajar kolaboratif, dan (3) atas dasar aktivitas proses kerja pemecahan masalah dirancang pengorganisasian isi materi belajar pemecahan masalah menggunakan pendekatan elaborasi.

Secara rinci kegiatan-kegiatan untuk tahapan ini diuraikan sebagai berikut. Sebagai langkah awal pengembangan , 3(tiga) orang dosen program studi Pendidikan Ekonomi FKIP Unlam yang sudah berpengalaman mengajar berstatus Lektor atau yang sudah pernah mendapat penataran Akuntansi   tingkat     nasional   dilibatkan dalam  pengembangan  prototipe program asesmen dan program pengelolaan belajar sekaligus program pengorganisasian isi pembelajaran.

Kegiatan-kegiatan  tahap ini  adalah  identifikasi  pokok-pokok dan sub-sub  pokok  bahasan yang mengandung kemampuan pemecahan ma salah, kapasitas kemampuan minimal atau kompetensi dasar yang diperlukan oleh mahasiswa, jenis tugas latihan atau kasus pemecahan masalah yang akan dijadikan sebagai prototipe bahan belajar.

Tugas-tugas belajar ini dielaborasi dari penguasaan kompetensi Akuntansi  Perusahaan Jasa,  yang  pada  langkah awal pengembang telah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


                                                                                                                            

D

e

l

i

v

e

r

y

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 20

Daftar Alir Prosedur Pengembangan Model Asesmen Teman Sejawat (MATS) dan Model Pengelolaan Belajar Kolaboratif (MPK).

mengidentifikasi menjadi 7(tujuh) pokok bahan belajar yang dikemas masing-masing menjadi satu satuan preskripsi pokok perkuliahan dan disebut satuan acara perkuliahan atau frame isi bahan kegiatan belajar. Ketujuh satuan acara perkuliahan ini dijabarkan dari kurikulum dengan menggunakan telaah analisis menurut jenis pengetahuan pemecahan masalah yang prosedural, mulai dari konsep, prinsip dan aturan serta pemecahan masalah yang diramu berdasarkan teori elaborasi.

Untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhan asesmen dan situasi pengelolaan belajar dalam pemecahan masalah Akuntansi dalam praktik di kelas, dan memperoleh gambaran nyata tentang hambatan-hambatan serta kesulitan mahasiswa dalam mengikuti kuliah Akuntansi, maka pertama, akan dilakukan wawancara dengan tiga orang dosen pembina kuliah Akuntansi di program studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, dan kedua, dilakukan observasi langsung kegiatan perkuliahan untuk matakuliah yang dibina dosen yang bersangkutan.

          Sebagai bahan komparasi akan dilakukan observasi dan wawancara kepada 2(dua) orang dosen pembina mata kuliah Akuntansi di program studi pendidikan ekonomi Fakultas Ilmu Sosial Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.   Hasil dari observasi dan wawancara ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran umum tentang situasi perkuliahan yang dijadikan obyek pengembangan asesmen dan pengelolaan belajar serta pengorganisasian isi materi. Lebih jauh dari kegiatan ini juga ditujukan untuk menyempurnakan dan memantapkan konsep preskripsi satuan acara perkuliahan yang dirancang dan analisis tugas untuk belajar pemecahan masalah. Rancangan untuk ini dapat dilihat pada identifikasi kompetensi pemecahan masalah di bidang Akuntansi Jasa.

          Setelah melalui proses penyempurnaan dan revisi akan dihasilkan prototipe model pengembangan. Prototipe yang dimaksud berupa prototipe tentang model asesmen teman sejawat (MATS), prototipe model pengelolaan belajar kolaboratif (MPK), dan prototipe materi bahan belajar atau satuan acara perkuliahan yang dilengkapi dengan perangkat asesmen dan evaluasinya dan disebut dengan sample program pembelajaran.

 

2. Tahap Penerapan Model

          Prototipe yang dihasilkan dari kegiatan tahap pengembangan model menjadi bahan masukan tahap pengembangan lanjutan, yaitu pemantapan prototipe-prototipe produk rancangan. Dalam kegiatan ini masuk fase pengembangan (develop) dan fase penyajian (delivery) dengan sasaran kegiatan memantapkan dan melakukan validasi:

(1)    Prototipe sample program pembelajaran pemecahan masalah beserta perangkat tes kemampuan pemecahan masalah (dirancang dua model setara untuk awal dan akhir kegiatan belajar) sekaligus memantapkan skenario pengelolaan belajar kolaboratif.

(2)    Prototipe model asesmen teman sejawat.

Pada akhir dari fase delivery dilakukan difusi melalui kegiatan review dari pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan maupun pengguna, institusi dan sejawat yang kemudian dibuat laporan akhir dari sasaran pengembangan ini. Pada tahap validasi akan dirancang metodologi tersendiri untuk menjamin pembuktian keandalan dari produk pengembangan dan akan dipaparkan pada sesi berikut dengan memperhatikan kaidah-kaidah prosedur uji-coba model.

 

C. Uji Coba Model 

          Desain rinci untuk penerapan model baik pada fase pengembangan (develop) maupun fase penyajian (delivery) dilakukan dengan langkah (1) uji perorangan, (2) uji kelompok kecil, dan (3) uji validasi model. Langkah-langkah ini merupakan rangkaian kegiatan evaluasi untuk mengkaji seberapa jauh kehandalan model yang dikembangkan. Model evaluasi yang digunakan mengadaptasi model evaluasi formatif (formative evaluation) dari Tessmer (1993) dengan alir kegiatan sebagaimana tampak pada gambar berikut ini.

Tahap ini dimulai dari evaluasi diri dengan diperolehnya hasil identifikasi   berbagai  masalah  yang  dihadapi  dan  pemikiran  alternatif

 

 

Gambar 21

Model Evaluasi Formatif

Sumber: Tessmer, 1993. General Sequence of Formative Evaluations Types (diambil tgl. 22 Maret 2006 dari http://www.geocities.com/researchTriangle/8788/ DR.html)

 

pemecahannya, pengembangan ditindaklanjuti dengan melakukan revisi rancangan setelah menerima masukan dari hasil review para ahli dan calon pengguna; langkah ini dikemas dalam metodologi sebagai uji perorangan.

Hasil dari langkah uji perorangan berupa bahan informasi untuk revisi prototipe pengembangan, kemudian setelah itu dilakukan revisi. Prototipe yang telah direvisi, diuji lebih lanjut kepada kalangan terbatas atau sekelompok kecil (small group) pengguna dalam situasi nyata dan fase ini disebut dengan uji kelompok kecil. Pemantapan prototipe diperoleh setelah direvisi berdasarkan informasi balikan dari kegiatan uji kelompok kecil; hasil pemantapan ini selanjutnya dikemas menjadi produk pengembangan tentatif yang kemudian diuji coba lagi melalui proses validasi empiris dan dikenal dengan langkah uji validasi model.

Hasil dari uji validasi model terhadap pengguna secara empiris, disebut dengan produk akhir pengembangan yakni berupa model asesmen teman sejawat dan model pembelajaran kolaboratif (MATS-MPK).

Tiap-tiap langkah pada tahap penerapan model ini diuraikan pada paparan berikut ini.

 

1. Uji  Perorangan

Untuk mendapatkan model asesmen beserta satuan acara perkuliahan atau sample program pembelajaran yang dibutuhkan dilakukan uji perorangan. Uji perorangan ditujukan untuk mendapatkan informasi tentang (1) estimasi tingkat kemampuan mahasiswa, (2) hal-hal yang tidak jelas dari isi naratif bahan belajar beserta tugas-tugas yang terdapat didalamnya, serta (3) hambatan-hambatan teknis yang mungkin dijumpai mahasiswa saat mengerjakan tugas pemecahan masalah dari setiap perangkat asesmen dan sample program yang dipreskripsikan.

Prosedur untuk mendapatkan informasi tersebut ditempuh dengan cara melibatkan minimal 5(lima) orang mahasiswa yang sudah pernah ikut kuliah Akuntansi Jasa di Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, dengan karakteristik mereka yang memperoleh nilai 0,1,2,3, dan 4. Jika kondisi ini tidak terwakili, maka akan diambil secara purposif masing-masing satu orang dari tiap kelompok mahasiswa menurut perolehan rentang nilai dari terendah sampai tertinggi. Pengelompokan ini ditempuh dengan cara membuat klasifikasi mahasiswa menurut distribusi frekuensi berdasar perolehan atribut nilai 0,1,2,3 dan 4. Sumber data didapat dari arsip nilai di Biro Administrasi Akademik FKIP Unlam.

Masing-masing dari mereka yang terpilih diminta untuk mengerjakan tugas-tugas pada sampel program yang berbeda-beda, kemudian dimintakan komentar dan pendapatnya melalui angket yang dikembangkan untuk itu. Angket ini diberi label ‘Tanggapan mahasiswa terhadap isi kuliah’. Dari kegiatan ini diharapkan diketahui pendapat, pandangan, dan saran untuk memperbaiki isi bahan sajian tugas beserta tingkat kesulitan dari bahan asesmen yang dibuat. Untuk memudahkan identifikasi kepada mereka diminta untuk memberikan tanda nomor-nomor tugas yang dianggap sulit pada prototipe bahan asesmen.

Pemilihan uji perorangan untuk mahasiswa yang sudah pernah ikut kuliah, dipandang lebih tepat karena akan dapat memberikan informasi yang lebih ideal daripada mahasiswa yang masih awam tentang isi kuliah sehingga validitas dan reliabilitas datanya dianggap lebih baik untuk bahan perbaikan prototipe sample program pembelajaran dan tugas-tugas atau tes kemampuan pemecahan masalah.

          Pada uji perorangan ini dilibatkan juga dosen pembina kuliah Akuntansi, yaitu dosen yang telah dilibatkan pada kegiatan awal penyusunan preskripsi prototipe model atau dosen yang pernah diwawancarai dan diobservasi kegiatan kuliahnya. Untuk kepentingan ini akan dibuat angket yang diberi label ‘Tanggapan dosen terhadap isi kuliah’. Kepada dosen-dosen ini (5 orang) akan disampaikan prototipe asesmen, sample program pembelajaran atau satuan acara perkuliahan beserta prototipe pengelolaan belajar yang lengkap dengan komponen-komponen pendukungnya. Sasaran evaluasi pada tahapan ini ditujukan untuk memperoleh informasi tingkat kesesuaian dan keterpakaian dari preskripsi model yang dirancang terutama dari aspek hasil belajar (outcomes), pebelajar, aktivitas atau kegiatan, asesmen dan evaluasinya. Angket tentang ‘Tanggapan dosen terhadap isi kuliah’ ini akan dibuat dua komponen, pertama untuk masalah prototipe pengelolaan belajar dan pengorganisasian isi bahan belajar, yang kedua, adalah untuk masalah prototipe model asesmen beserta perangkat tes kemampuan pemecahan masalah yang dipreskripsikan.

 

2. Uji Kelompok Kecil

          Langkah uji perorangan memberikan informasi guna penyempurnaan prototipe asesmen, pengelolaan belajar dan pengorganisasian belajar beserta komponen pendukungnya. Setelah penyempurnaan-penyempurnaan itu dilakukan maka prototipe asesmen, pengelolaan belajar dan pengorganisasian isi materi ini diuji-cobakan pada tingkat lanjut yaitu uji kelompok kecil. Sasaran subyek coba untuk uji kelompok kecil adalah mahasiswa calon penempuh matakuliah Akuntansi Jasa di Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Unlam. Jumlah kelompok yang dibutuhkan adalah 20 orang mahasiswa, yang kreteria pemilihannya seperti diuraikan pada penjelasan tentang subyek coba.

          Uji coba pada kelompok kecil ditujukan untuk mendapatkan informasi tentang kelayakan, adaptabilitas, dan keberfungsian penerapan dari model yang dipreskripsikan baik untuk model asesmen, model pengelolaan belajar dan pengorganisasian isi menurut kondisi lapangan. Lebih khusus uji coba pada tahap ini ditujukan untuk mendapatkan data uji validitas, reliabilitas dan kesetaraan dari alat ukur kemampuan pemecahan masalah. Oleh sebab itu jika tingkat kemampuan pemecahan masalah mahasiswa untuk tes akhir lebih baik daripada tes awal secara signifikan, maka justifikasi yang dipakai adalah bahwa preskripsi model asesmen, pengelolaan belajar dan pengorganisasian isi bahan belajar dapat diterapkan sesuai kondisi lapangan. Perlu dikemukakan di sini, bahwa alat ukur kemampuan pemecahan masalah ada dua macam, yakni berupa (1) tes kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah, dan (2) tes kemampuan menemukan prosedur baru pemecahan masalah.

 

3. Uji Validasi Model

Kegiatan pada tahap ini difokuskan kepada upaya mendapatkan data empirik tentang tingkat efektivitas implementasi dari model asesmen teman sejawat (MATS) dan model pengelolaan belajar kolaboratif (MPK) serta pengorganisasian isi bahan belajar.

Berikut dipaparkan mengenai desain uji validasi model, variable yang diteliti, lokasi dan waktu pelaksanaan, jenis dan sumber data, instrumentasi, validitas internal penelitian, validitas eksternal dan teknik analisis data.

 

a. Desain Uji Validasi Model

Desain uji validasi model ini menggunakan pola rancangan quasi eksperimen dengan pratest-pascatest nonequivalent control group design; seperti yang direferensikan oleh McMillan & Schumacher (2001:342-344) dan Wiersma (1986:143-146). Dari kedua referensi ini dapat disimpulkan bahwa penelitian quasi eksperimen berupaya (1) memanipulasi satu atau lebih variable bebas secara sistematis dan logis, (2) mengamati pengaruhnya terhadap variabel terikat, (3) memperkecil kemungkinan terjadinya kontaminasi dari pengaruh variable luar yang lain (baik variable moderator ataupun variabel kontrol), dan (4) dimungkinkannya memperlakukan tindakan nonrandom terhadap pemilihan individu dan menggunakan langsung kelompok individu yang ada (kelas) dalam menentukan kelompok coba dan kelompok kontrol.

Rancangan ini dipakai dengan pertimbangan untuk meningkatkan validitas internal dari percobaan, karena:

(1) Tidak ada pilihan kelompok subyek coba dari peserta kuliah, karena hanya didapati dua kelompok tunggal sesuai dengan penawaran kuliah yang disajikan oleh Prodi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Lambung Mangkurat, yakni satu kelompok peserta kuliah mahasiswa reguler dan satu kelompok peserta kuliah mahasiswa swadana atau mandiri.

(2) Jadwal penyelenggaraan kuliah dalam semester yang sama bagi kelompok mahasiswa reguler berbeda dengan kelompok mahasiswa swadana atau mandiri, tetapi tujuan, isi dan struktur perkuliahan mengacu pada kurikulum yang sama.

 (3) Randomisasi individu subyek coba tidak mungkin dilakukan sehingga bias yang bersumber dari nonrandom dapat diatasi dengan melakukan prates dan ditindaklanjuti dengan menguji perbedaan rerata hasil prates kemampuan pemecahan masalah antara kelompok coba dan kelompok kontrol. Jika perbedaannya signifikan, maka  hasil pengukuran prates tersebut digunakan sebagai kovariat (variable sertaan) dalam analisis pengaruh variable bebas berupa preskripsi model asesmen, pengelolaan belajar dan pengorganisasian isi bahan belajar terhadap variable terikat. Selain itu juga dilibatkan variable karakteristik individu seperti adversity quotient dan lokus kendali untuk mengontrol pengaruh variable bebas terhadap hasil percobaan.

          Selanjutnya rancangan perlakuan pada percobaan dapat disimak pada tabel 6 berikut.

 

 

 

Tabel 6

Rancangan Perlakuan Pada Percobaan

 

 

Kelompok

Prates

Variabel

Perlakuan

Pascates

A

(Percobaan)

 

 

O1

MATS-MPK

SAP 1,2,3,4,5,6,7 ( X )

 

O2

B

(Kontrol)

 

 

O3

Konvensional

SAP 1,2,3,4,5,6,7 ( - )

 

O4

 

Keterangan:

SAP = Satuan Acara Perkuliahan (terdiri dari 7 set);

O = Observasi;

X = Perlakuan berbentuk MATS-MPK

 

 

Fokus perhatian pada tahap ini adalah ingin melihat efektivitas model yang telah dipreskripsikan baik kegiatan asesmen, pengelolaan belajar, maupun pengorganisasian isi dilihat dari aspek internal mahasiswa yaitu dari pengaruh adversity quotient, dan lokus kendali.

Untuk tujuan memenuhi informasi tentang dampak atau pengaruh yang unik faktor karakteristik pebelajar, pengelolaan kegiatan pembelajaran pada peningkatan kemampuan hasil belajar (outcome), digunakan model pendekatan evaluasi Input-Environment-Outcome (I-E-O) yang direferensikan oleh Astin (1995). Dimensi-dimensi yang termasuk dalam variable input adalah karakteristik pebelajar yang antara lain adversity quotient, prates kemampuan pemecahan masalah sebagai ukuran pengalaman belajar sebelumnya, dan lokus kendali. Dimensi lingkungan (environment) antara lain variable-variabel yang merujuk kepada pengalaman pebelajar selama mengikuti perkuliahan antara lain model pembelajaran, sistem asesmen teman sejawat dan pola pengelolaan belajar kolaboratif. Dimensi hasil belajar (outcome) dalam hal ini adalah kemampuan pemecahan masalah baik untuk kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah maupun kemampuan menemukan prosedur baru pemecahan masalah.

 

b. Variabel Penelitian

          Variabel bebas yang merupakan dimensi lingkungan (environtment) atau variable perlakuan adalah kegiatan ujicoba berupa preskripsi model asesmen teman sejawat (X1) dengan latar model pembelajaran kolaboratif (MPK) pada perkuliahan Akuntansi Perusahaan Jasa. Variabel terikat yang merupakan dimensi hasil (outcome) adalah kemampuan pemecahan masalah. Ada dua variable dimensi hasil yakni: Y1 = kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah; dan Y2 = kemampuan menemukan prosedur pemecahan masalah. Variabel kontrol yang merupakan dimensi input terdiri dari adversity quotient (X2) dan lokus kendali (X3) dan tes kemampuan pemecahan masalah awal (X3).

 

c. Lokasi dan Waktu

          Penelitian ini rencana dilakukan pada Jurusan Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Waktu penelitian adalah satu semester, yaitu direncanakan pada Semester ganjil atau semester genap tahun 2006/2007.

 

d. Subyek Coba

          Subyek coba adalah dosen dan mahasiswa peserta kuliah Akuntansi Keuangan atau praktikum Akuntansi Jasa pada program studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan IPS FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Jumlah peserta kuliah mengikuti keadaan saat terjadinya penawaran matakuliah yang bersangkutan. Penentuan subyek coba ditentukan dengan teknik purposif sesuai dengan kepentingan tahap pengembangan.

          Untuk subyek uji-coba perorangan dipilih 5(lima) orang mahasiswa yang sudah pernah ikut kuliah Akuntansi Jasa pada semester yang lewat, dengan masing-masing individu yang mewakili perolehan prestasi bernilai 0,1,2,3 dan 4 atau beratribut prestasi A,B,C,D dan E. Jika tidak didapat komposisi mahasiswa seperti rancangan, akan diambil masing-masing seorang mahasiswa yang mewakili kelompok perolehan nilai pada rentang terendah hingga tertinggi. Dari pihak dosen akan dipilih 5(tiga) orang yang membina kuliah bidang Akuntansi sebagai ahli sekaligus bertindak sebagai panelis dalam pengajaran dan asesmen bidang Akuntansi. Sebanyak 3(tiga) orang berasal dari dosen di Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Untuk bahan komparasi akan diobservasi dan diminta sebagai panelis 2(dua) orang dosen Pembina kuliah Akuntansi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta.

          Untuk uji-coba kelompok kecil dipilih 20 (orang) mahasiswa yang terdiri dari 10(sepuluh) orang mahasiswa kelompok atas dan 10(sepuluh) orang kelompok bawah dari satu kelas yang memprogram kuliah di semester tertentu. Identifikasi mereka didasarkan pada hasil indeks prestasi hasil studi kumulatif yang ada di Biro Administrasi Akademik FKIP Unlam. Kelompok atas dipilih sepuluh orang dari rangking teratas dan sepuluh orang berikutnya dipilih dari 10 rangking dari bawah daftar indeks prestasi dari mahasiswa peserta kuliah. Selain kriteria ini tes adversity quotient (AQ) digunakan juga sebagai dasar untuk memilahkan kelompok mahasiswa uji coba kelompok kecil ini. Kriteria yang digunakan sama dengan kriteria pengklasifikasian indeks prestasi.

 Untuk uji validasi model, subyek coba adalah seluruh mahasiswa baik mahasiswa reguler maupun mahasiswa swadana (mandiri) peserta kuliah Pengantar Akuntansi Keuangan atau Praktikum Akuntansi Jasa yang disajikan pada semester tertentu saat uji validasi model dilakukan.

 

e. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang dibutuhkan untuk tujuan pengembangan ini antara lain:

(1)  Identifikasi kemampuan pemecahan masalah bidang Akuntansi Jasa yang terkait dengan jenis pengetahuan prosedural yang terdiri dari kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah dan kemampuan menemukan prosedur baru pemecahan masalah. Sumber data diperoleh dari pengkajian teori belajar dan pembelajaran dan praktik pembelajaran, serta exemplar penelitian relevan.

(2)  Kebutuhan tentang kemampuan pemecahan masalah menurut ekspektasi dan kebutuhan empiris di lapangan. Sumber data ini diperoleh dari mahasiswa yang sudah pernah mengikuti kuliah dan para dosen Pembina kuliah serta peristiwa kegiatan pembelajaran di kelas atau praktikum di laboratorium.

(3)  Deskripsi tentang tujuan umum, tujuan khusus, strategi kuliah, rancangan pengorganisasian pembelajaran, rancangan asesmen teman sejawat beserta perangkat log dan jurnal untuk kegiatan asesmen. Sumber data adalah hasil tinjauan dan pengkajian teori relevan dan khasanah penelitian yang relevan.

(4)  Validitas dan reliabilitas serta kesetaraan tes Kemampuan Pemecahan Masalah. Sumber data adalah hasil telaah tes pada sesi sebelum perlakuan atau pada langkah uji kelompok kecil.

(5)  Kualitas isi dan feasibilitas rancangan (kegunaan, kelayakan, dan ketepatan). Sumber data adalah respon dosen dan mahasiswa peserta kuliah terhadap preskripsi model yang dikembangkan baik pada tahap uji kelompok kecil maupun pada uji validasi model.

(6)  Kelayakan dan adaptabilitas model asesmen teman sejawat dan pola pengelolaan kolaboratif. Sumber data adalah hasil uji validasi model pada kelompok pengguna dan sasaran pengembangan.

Deskripsi tentang cara melacak semua data yang disebut di atas selain telah dibahas pada tahap pengembangan model juga disajikan pada bagian instrumentasi khususnya yang berkaitan dengan uji validasi model.

 

f. Skenario Penerapan Asesmen Teman Sejawat  dan Pola Perkuliahan

Preskripsi model asesmen dengan latar pengelolaan belajar secara kolaboratif digagas dari pemikiran pentingnya pembekalan mahasiswa akan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan kerjasama yang kolaboratif.

Karakteristik pengelolaan belajar secara kolaboratif merupakan pola belajar yang membina kerjasama di antara pebelajar dengan intensitas rasa tanggungjawab bersama dalam mencapai keberhasilan. Keberhasilan semata-mata bukan hasil kerja individual atau kompetisi tetapi merupakan hasil kerja kelompok. Kerja kelompok yang diikuti dengan intensitas kesalingtergantungan di antara anggota kelompok merupakan wujud keberhasilan belajar. Hasil belajar tidak hanya diukur dari prestasi individu tetapi terutama juga lebih ditentukan oleh prestasi kerja secara kolaboratif di antara anggota-anggota kelompok.

Kebiasaan dalam kerja  kolaboratif di antara anggota kelompok acapkali belum terpikirkan oleh kalangan dosen pembina kuliah dalam cara-cara melakukan asesmen dan penilaian keberhasilan mahasiswa dalam belajar. Tujuan pembelajaran akuntansi yang lebih banyak mengandung pengetahuan pemecahan masalah dan bersifat prosedural, sangat tepat didekati dengan pola pembelajaran kolaboratif. Peluang untuk memperkaya pengetahuan baru dari belajar dan kerjasama secara kolaboratif memungkinkan mahasiswa untuk lebih banyak memperoleh dan menerima informasi baru dari sejawatnya maupun dari sumber belajar lainnya sehingga perkembangan kemampuan atau kompetensi  semakin cepat akumulasinya.

Pencapaian kemampuan berpikir pemecahan masalah sebagai bagian dari berpikir divergent atau berpikir tingkat tinggi, memungkinkan mahasiswa untuk dapat memiliki kemampuan transfer belajar yang berguna dalam kehidupannya kelak, baik dalam membimbing siswa kelak setelah menjadi guru maupun demi untuk kepentingan membina karir dan kehidupannya di masyarakat.

Kerja kolaboratif tidak terbatas pada lingkup belajar dalam kelas tetapi juga meliputi pengalaman-pengalaman mahasiswa belajar di luar kelas. Penilaian keberhasilan belajar mahasiswa yang masih mengandalkan tes tunggal tidak tepat lagi untuk diterapkan dalam melakukan penilaian pada pembelajaran dengan pendekatan pola kolaboratif. Praktek penilaian tes tunggal belum menyentuh tentang penilaian kinerja belajar mahasiswa dalam belajar dan bekerja secara kolaboratif. Hasil asesmen dengan tes tunggal terbukti mengandung bias keputusan dan berakibat merugikan mahasiswa. Oleh sebab itu model asesmen teman sejawat (MATS) dikembangkan sebagai salah satu pendekatan yang relevan dan memenuhi kebutuhan alternatif penilaian yang komprehensif dan menutupi kekurangan-kekurangan pada praktek penilaian dengan tes tunggal. Selain hal itu pengembangan asesmen sebagai alat untuk memperbaiki proses pembelajaran, meningkatkan layanan bagi mahasiswa (assessment for learning) merupakan kebutuhan yang mendesak untuk dikembangkan, karena sejalan dengan misi dari PP No. 19 Tahun 2005. Betapapun begitu pengembangan sebuah sistem asesmen tidak akan ada maknanya jika tidak mempertimbangkan penerapan dalam konteks sistem pembelajaran. Di antara variabel-variabel metode pengajaran yang digunakan sebagai wahana dasar pengembangan asesmen adalah strategi pengelolaan dan pengorganisasian isi bahan belajar.

Landasan pemikiran ini bertolak dari tolok ukur keberhasilan penguasaan kemampuan pemecahan masalah yang dilatari oleh adanya kebutuhan belajar mahasiswa yang asumsinya, bahwa (1) pengetahuan itu dikonstruksi sehingga perlu partisipasi aktif mahasiswa dalam belajar, (2) tugas memberi manfaat, karena dengan diberi tugas maka mahasiswa akan aktif belajar, (3) informasi asesmen akan meningkatkan mutu pengajaran, dan (4) kriteria hasil belajar yang disepakati mendorong belajar mahasiswa.

          Sistem asesmen yang dikembangkan atas dasar fungsi formatif ditujukan untuk diagnosa hambatan belajar mahasiswa dan digunakan untuk memberi informasi untuk perbaikan selama dalam proses pembelajaran. Pengembangan asesmen bermuara pada frame kegiatan belajar menurut dimensi tingkat kesulitan belajar pemecahan masalah. Materi belajar dengan demikian perlu ditata menurut kaidah tertentu menurut prinsip teori elaborasi, penataan berlangsung dari pengetahuan tentang prosedur yang sederhana menuju yang rumit. Preskripsi untuk mendukung proses kerja konstruksi pengetahuan selain isi ditata menurut tingkat kerumitan, juga diikuti ragam variasi tugas sebagai unsur stimuli belajar. Preskripsi penataan isi bahan belajar disajikan dalam bentuk frame berupa satuan acara perkuliahan. Ancangan ini diprediksikan dapat menumbuhkembangkan kemampuan mengenal prosedur pemecahan masalah dan berikutnya mendorong aktivitas kreasi menemukan prosedur baru pemecahan masalah. Pengaktivan aktivitas kreasi ini membutuhkan preskripsi pengelolaan belajar yang memungkinkan adanya stimuli intensitas interaksi sosial di antara pebelajar. Pendekatan kolaboratif dengan pola investigasi kelompok dipilih sebagai wahana preskripsi model pengelolaan belajar.

          Validasi empiris terhadap efektivitas dan akseptabilitas model membutuhkan pendekatan evaluasi yang terapannya menggunakan pendekatan I-E-O. Gambaran dari keseluruhan preskripsi yang telah dipaparkan dalam skenario ini divisualisasikan dalam gambar 23 berikut ini.

Pengelolaan pengajaran Akuntansi secara kolaboratif memberi implikasi kepada perlunya penyiapan berbagai aspek metode mengajar terutama menyangkut pengorganisasian isi bahan belajar, strategi penyampaian maupun dalam melakukan asesmen sebagai sarana evaluasi formatif maupun sumatif dalam kerangka sistem pengajaran. Preskripsi sistem asesmen dan perangkatnya perlu disesuaikan dengan strategi pengelolaan belajar dan strategi pengorganisasian isi bahan belajar karena substansi pengetahuan dalam bidang Akuntansi Jasa sebagaimana telah dikupas dalam uraian terdahulu mengandung pengetahuan yang karakteristiknya berisi pengetahuan prosedural. Dalam mempreskripsikan teknik asesmen serta pengorganisasian isi dan pengelolaan belajar dirancang menurut pendekatan rekursif dan dituangkan dalam matrik.

Matrik-matrik dimaksud terdiri dari (1) matrik strategi penyampaian materi, (2) matrik model pengajaran menurut pengorganisasian isi, dan (3)matrik teknik asesmen dalam konteks pembelajaran kolaborasi. Masing-masing matrik ini disajikan pada tabel 6, 7 dan 8 di halaman berikut.

 

 

(1) Strategi Penyampaian.

Dengan memperhatikan kaidah pengelolaan belajar kolaboratif melalui investigasi kelompok beserta prinsip-prinsipnya, maka preskripsi dari model pengorganisasian pengajaran Akuntansi yang diajukan dapat dibuat matrik yang disebut dengan pengorganisasian strategi penyampaian materi berpola pengajaran kolaboratif, yang matriknya tampak pada tabel 7 berikut.

Tabel 7

Rancangan Model Strategi Penyampaian Materi

Pada Tahapan Pengajaran Kolaboratif Versi Investigasi Kelompok

 

 

No.

 

Isi Kuliah (Sebagai Stimuli Material)

Tahapan Pengajaran

 

Intervensi Pada Kelompok

Situasi Bermasalah

 

Eksplo-rasi

Perumusan Tugas Belajar

Kegiatan Belajar

Analisis Kemaju-an

 

Coba

Kon-trol

1

Orientasi dan Prates

tidak

tidak

tidak

tidak

Identifikasi bekal awal

ya

ya

2

SAP 1

ya

ya

ya

ya

ya

ya

ya

3

SAP 2

ya

ya

ya

ya

ya

ya

ya

4

SAP 3

ya

ya

ya

ya

ya

Ya

ya

5

SAP 4

ya

ya

ya

ya

ya

ya

Ya

6

SAP 5

ya

ya

ya

ya

ya

ya

Ya

7

SAP 6

ya

ya

ya

ya

ya

ya

Ya

8

SAP 7

ya

ya

ya

ya

ya

ya

Ya

9

Rangkuman dan Pascates

tidak

tidak

tidak

tidak

ya

ya

ya

 


Gambar 22

Rancangan Alur Pengembangan Asesmen Teman Sejawat Berbasis Pengelolaan Belajar Kolaboratif.


(2) Pengorganisasian Isi Prosedural Model Elaborasi

          Untuk model pengajaran ditilik dari aspek pengorganisasian isi secara elaborasi dapat diamati pada tabel 8 berikut:

 

Tabel 8

Matrik Model Pengajaran Menurut Aspek Pengorganisasian Isi Secara Elaborasi

 

 

No.

 

Isi Kuliah (Sebagai Stimuli Material)

Tahapan Elaborasi Isi Kuliah

 

Intervensi Pada Kelompok

Penyaji-an Epitome

 

Elabora-si Tahap Pertama

Elabo-rasi Tahap Kedua

Elaborasi Tahap Lanjut-an

Epitome Termi-nal

 

Coba

Kon-trol

1

Orientasi dan Prates

ya

tidak

tidak

tidak

tidak

tidak

tidak

2

SAP 1

ya

ya

ya

ya

ya

ya

ya

3

SAP 2

ya

ya

ya

ya

ya

ya

ya

4

SAP 3

ya

ya

ya

ya

ya

ya

ya

5

SAP 4

ya

ya

ya

ya

ya

ya

ya

6

SAP 5

ya

ya

ya

ya

ya

ya

ya

7

SAP 6

ya

ya

ya

ya

ya

ya

ya

8

SAP 7

ya

ya

ya

ya

ya

ya

ya

9

Rangkuman dan Pascates

ya

tidak

tidak

tidak

ya

ya

ya

 

(3) Strategi Asesmen Proses dan Hasil Belajar

          Dari matrik strategi penyampaian materi dan pengorganisasian isi, kemudian disusun matrik untuk tindakan asesmen pada setiap tahapan Satuan Acara Perkuliahan dan awal serta akhir proses kuliah yang terdiri dari prates dan pascates. Matrik dimaksud dimodelkan seperti pada tabel 9 berikut.

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 9

Matrik Tindakan Asesmen Pada Tahapan Perkuliahan Pola Kolaboratif

 

 

No.

 

Isi Kuli-ah

Bentuk dan Instrumen

Asesmen

Intervensi Pada Kelompok

(1)

 

(2)

(3)

 

(4)

(5)

(6)

Coba

Kon-trol

1

Ori-enta-si dan Pra-tes

Prates 1

Prates 2

Tes LK

Tes AQ

(Tes Baku)

-

-

-

-

-

ya

ya

2

SAP 1

-

KPM 1,

KPM 2

(RA)

KPM 1,

KPM 2

(RA)

Observasi,

(LJ)

Skala Lajuan

-

Ya

Tidak

3

SAP 2

-

KPM 1,

KPM 2

(RA)

KPM 1,

KPM 2

(RA)

Observasi,

(LJ)

Skala Lajuan

-

Ya

Tidak

4

SAP 3

-

KPM 1,

KPM 2

(RA)

KPM 1,

KPM 2

(RA)

Observasi,

(LJ)

Skala Lajuan

-

Ya

Tidak

5

SAP 4

-

KPM 1,

KPM 2

(RA)

KPM 1,

KPM 2

(RA)

Observasi,

(LJ)

Skala Lajuan

-

Ya

Tidak

6

SAP 5

-

KPM 1,

KPM 2

(RA)

KPM 1,

KPM 2

(RA)

Observasi,

(LJ)

Skala Lajuan

-

Ya

Tidak

7

SAP 6

-

KPM 1,

KPM 2

(RA)

KPM 1,

KPM 2

(RA)

Observasi,

(LJ)

Skala Lajuan

-

Ya

Tidak

8

SAP 7

-

KPM 1,

KPM 2

(RA)

KPM 1,

KPM 2

(RA)

Observasi,

(LJ)

Skala Lajuan

-

Ya

Tidak

9

Rang-kum-an dan Pasca tes

-

KPM 1,

KPM 2

(RA)

KPM 1,

KPM 2

(RA)

Observasi,

(LJ)

Skala Lajuan

Pasca-tes 1

Pasca-tes 2

(Tes Baku)

Ya

Ya

Keterangan :

(1) = needs assessment

(2) = Efektivitas Kelompok

(3) = Efektivitas Individu

(4) = Kualitas Interaksi Diskusi Kelompok & Persentasi Hasil Diskusi

(5) = Tanggapan Mahasiswa Terhadap Kualitas Model Asesmen dan Pembelajaran

(6) = Asesmen Sumatif

SAP = Satuan Acara Perkuliahan

Prates 1 = Tes awal kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah

Prates 2 = Tes awal kemampuan menemukan prosedur baru pemecahan masalah

Pascates 1 = Tes akhir kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah

Pascates 2 = Tes akhir kemampuan menemukan prosedur baru pemecahan masalah

Tes LK = Tes lokus kendali

Tes AQ = Tes adversity quotient

KPM 1 = Kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah

KPM 2 = Kemampuan menemukan prosedur pemecahan masalah

Rubrik Analitik (RA) = Pedoman penilaian (marking scheme) berdasarkan herarkhi belajar kognitif

Log dan jurnal belajar (LJ) = rekaman kegiatan belajar dan catatan pribadi tentang kemajuan belajar dalam kuliah maupun di luar kuliah

 

 

 

g. Instrumentasi

Metode pengumpulan data dan instrumen yang akan digunakan dalam pengembangan ini terdiri dari beragam teknik yang penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis data yang dikumpulkan sesuai dengan tahap-tahap kegiatan pengembangan. Pada dasarnya ada dua kelompok instrument, yaitu instrument pengumpul data dan instrument perlakuan. Instrumen perlakuan lebih terfokus penggunaannya pada saat validasi model, oleh karena itu untuk kelompok ini akan dibahas tersendiri pada sub instrumentasi. Sedangkan instrument yang sudah dibahas pada langkah tahap pengembangan sudah cukup dijelaskan pada sesi di muka.

Untuk menjamin validitas dan reliabilitas instrumen-instrumen yang digunakan akan dilakukan tindakan validasi instrumen. Untuk tes kemampuan pemecahan masalah akan dilihat beberapa dimensi persyaratan alat ukur tes antara lain validitas isi, konkuren, dan konstruksi dari tes tersebut, kemudian dimensi taraf kesukaran, daya pembeda dan tingkat kesetaraan tes antar prates dan pascates. Terhadap angket tentang tanggapan dosen dan mahasiswa akan dilihat validitas dan reliabilitasnya melalui analisis faktor konfirmatori terhadap konstruk isi angket. Untuk penerapan teknik Delphi, akan dilakukan analisis kesepakatan antar panelis dengan menggunakan koefisien Kappa.

 

1) Instrumen Pengumpul Data

Penelitian ini memerlukan instrumen pengumpul data untuk variable terikat berupa tes kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah, tes kemampuan menemukan prosedur baru pemecahan masalah bidang akuntansi, dan rubrik penilaian analitik dilengkapi dengan log dan jurnal belajar.

Tes kemampuan ditujukan untuk mengetahui perkembangan perolehan hasil belajar pemecahan masalah yang disekor dengan menggunakan rubrik penilaian analitik. Untuk skoring ini menggunakan model teman sejawat mahasiswa dan oleh dosen. Log dan jurnal belajar digunakan untuk mengetahui perkembangan dan partisipasi tiap individu mahasiswa dalam kegiatan belajar secara individu dan secara kolaboratif dalam kelompok, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Data dari log dan jurnal belajar merupakan data pendukung untuk menjelaskan tingkat perolehan hasil belajar kemampuan pemecahan masalah.

 

a) Tes Kemampuan Pemecahan Masalah dan Rubrik Penilaian Analitik.

(1) Definisi Konseptual:

Kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah adalah tingkat kemampuan pemahaman dan analisis terhadap penggunaan pola prosedural pemecahan masalah  baik konsep, prosedur dan prinsip, serta penerapan urutan tindakan pemecahan masalah penyelesaian aktivitas pencatatan transaksi keuangan atau Akuntansi dalam perusahaan jasa.

Kemampuan menemukan prosedur baru pemecahan masalah adalah tingkat kemampuan menemukan dan menerapkan prosedur baru yang analog atau sama sekali baru menyangkut penggunaan pola prosedural pemecahan masalah baik konsep, prosedur dan prinsip, serta penerapan urutan tindakan dalam penyelesaian aktivitas transaksi keuangan atau Akuntansi dalam perusahaan jasa.  

 

(2) Definisi Operasional:

Kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah adalah skor hasil tes kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah penyelesaian aktivitas pencatatan transaksi keuangan  atau Akuntansi dalam perusahaan jasa yang dilakukan dengan menggunakan kunci jawaban tes obyektif untuk itu.

Kemampuan menemukan prosedur baru pemecahan masalah adalah skor penilaian hasil tes unjuk kerja penyelesaian kasus akuntansi yang diukur dengan menggunakan sarana rubrik analitik untuk tes pemecahan masalah atas dimensi pengenalan pola prosedural, urutan tindakan, dan gabungan antara pengenalan pola prosedural dan urutan tindakan.

 

(3)   Kisi-kisi Tes Kemampuan pemecahan masalah.

Tabel 10

Rincian Butir Soal Prates dan Pascates Kemampuan Pemecahan Masalah

 

 

 

No.

 

 

 

Pokok Bahasan

Dimensi yang diukur

(Bentuk tes)

 

 

Jumlah

Soal

Penggunaan Prosedur (Obyektif)

Penemuan Prosedur Baru (Penyelesai-an Kasus)

Pema-haman

Analisis

1

Konsep Persamaan Dasar Akuntansi

3

2

2

7

2

Perkiraan dan Buku Besar

3

2

1

7

3

Pencatatan Transaksi (Jurnal dan Posting)

4

3

2

7

4

Jurnal Umum, Buku Besar, Neraca Saldo

4

2

2

8

5

Proses Penyusunan Laporan Keuangan

4

2

1

7

6

Laporan Keuangan

4

2

1

7

7

Penutupan dan Pembukaan Kembali Akuntansi

3

2

1

7

 Jumlah

25

15

10

50

 

 

(4) Bentuk Tes

(i). Tes Kemampuan Pemecahan Masalah

Ada dua macam bentuk tes untuk ini. Pengukuran kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah diukur dengan tes obyektif dan kemampuan unjuk kerja menemukan prosedur baru pemecahan masalah diukur dengan tes kinerja. Untuk tes kinerja, mahasiswa diminta menyelesaikan pemecahan kasus akuntansi tertentu pada perusahaan jasa kemudian dinilai dengan menggunakan rubrik penilaian analitik. Proses penilaian tes obyektif dan tes kinerja dilakukan oleh dosen dan juga oleh mahasiswa sebagai terapan dari intervensi asesmen teman sejawat untuk kelompok coba, sedangkan untuk kelompok kontrol cukup dilakukan oleh dosen saja.

(ii). Rubrik penilaian analitik

Rubrik ini digunakan untuk menilai kinerja dalam tugas. Sebuah rubrik penilaian merupakan suatu skala yang momot  sejumlah karakteristik yang menjelaskan kinerja mahasiswa pada tiap poin skala. Menurut Nitko (1996) dalam rubrik penilaian analitik, penilai memberi skor pada komponen-komponen, kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan skor total. Untuk ini akan dikembangkan rubrik penilaian analitik untuk kemampuan pemecahan masalah akuntansi sesuai dengan topik-topik yang berjenjang mengikuti isi dan cakupan dari SAP masing-masing.

 

(5) Validasi

(i) Validasi Tes Kemampuan Pemecahan Masalah

Tes kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah bentuknya menggunakan tes obyektif pilihan ganda; untuk tes kemampuan menemukan prosedur baru pemecahan masalah bentuknya cenderung lebih kepada bentuk tes uraian berupa analogi pemecahan kasus.

(a) Validasi tampilan dan Isi tes kemampuan pemecahan masalah.

Tes ini dikembangkan dan disusun oleh pengembang, kemudian didiskusikan dengan para dosen sebagai ahli dan praktisi pengajaran bidang akuntansi, untuk mengetahui kualitas tampilan dan isi dari tes dimaksud. Sasaran pokok yang diuji adalah apakah tes yang disusun telah mencerminkan materi tes kemampuan pemecahan masalah, dan sesuai dengan tingkat kemampuan yang dituntut menurut acuan kompetensi Akuntansi Perusahaan Jasa.

(b) Validitas Empiris Tes Kemampuan Pemecahan Masalah

Validitas empiris dilihat dari kejelasan perintah pada tes, dan kecocokan bahasa yang digunakan dengan tingkat kemampuan mahasiswa. Data empiris diperoleh dari penilaian oleh responden mahasiswa yang pernah mengikuti kuliah pengantar akuntansi keuangan atau praktikum akuntansi jasa dan telah lulus pada tahun sebelumnya. Mahasiswa akan diberikan sebuah angket yang menanyakan penilaian tentang dua hal yaitu tentang kejelasan isi berikut perintah dari tes, dan kesesuaian bahasa yang digunakan dengan tingkat kemampuan mahasiswa. Untuk menilai tentang hal tersebut, responden diminta untuk memilih satu dari lima pilihan yang tersedia dari setiap aspek. Hasil dari kegiatan ini diperoleh rata-rata penilaian responden tentang aspek isi tes dan kejelasan bahasa dimaksud dan selanjutnya dapat ditarik kesimpulan tentang justifikasi penggunaannya. Dalam fase ini juga akan dianalisis tentang taraf kesukaran, daya pembeda dan tingkat kesetaraan tes antar prates dan pascates untuk kedua macam tes kemampuan tersebut.

(ii) Validasi Rubrik Penilaian Analitik

(a)  Validitas Tampilan dan Isi rubrik penilaian analitik

Validitas tampilan dan isi rubrik penilaian analitik didiskusikan dengan dosen selaku praktisi pengajaran akuntansi, dilakukan pada waktu yang sama dengan pelaksanaan validisi tes kemampuan pemecahan masalah.

(b)  Validitas Empiris Rubrik Penilaian Analitik.

Validitas empiris rubrik penilaian analitik diperoleh melalui ujicoba berupa penilaian ahli dari tiga orang rater terhadap hasil kinerja mahasiswa khususnya yang berkaitan dengan kemampuan menemukan prosedur baru pemecahan masalah akuntansi. Untuk mengetahui tingkat validitas empirisnya, hasil rater dinalisis dengan teknik formula Anava Hoyt atau korelasi intraklas.

 

 

b) Tes Adversity Quotient (AQ)

 

(1) Definisi Konseptual:

Adversity quotient (AQ) adalah konstruksi kognitif individu yang membentuk kemampuan pada diri seseorang mampu bertahan dalam kesulitan untuk dapat meraih sukses. AQ berfungsi untuk memberdayakan potensi dan akhirnya cakap dalam mengendalikan kecenderungan-kecenderungan diri.  

 

(2) Definisi Operasional:

Adversity quotient (AQ) adalah ukuran pencapaian sukses seseorang setelah dihadapkan pada tantangan diri dan pembatas waktu, dengan menggunakan instrument yang diadaptasi dari Stoltz (1997). AQ menggambarkan profile seseorang tentang kemampuannya untuk dapat berkembang dalam menghadapi berbagai tantangan, dan mengendalikan kecenderungan diri dalam konteks organisasi. Dimensi dari profile AQ didasarkan pada Hybrid Control Theory yakni merupakan kombinasi dari teori-teori hardiness, lokus of control, resilience, self-efficacy dan teori atribusi (attribution theory) (Stoltz (1997:107). Dimensi-dimensinya terdiri dari: control (C), origin dan ownership (O2), reach (R), dan endurance (E).

 

(4)   Kisi-kisi Tes Adversity Quotient

Dimensi AQ dijabarkan dari aspek tantangan diri seseorang dalam memahami kerangka konsep tentang arti sukses dan cara-cara mencapainya. Pada tabel berikut dapat disimak dimensi-dimensi itu sebagai sarana untuk mengukurnya. AQ merupakan fungsi jumlah dari komponen dimensi-dimensi tersebut atau AQ= (C+O2+R+E).

Tabel 11

Rincian Butir Tes AQ Menurut Aspek Yang Diukur

No.

Aspek yang diukur

Jumah Penjabaran butir

Positip

Negatif

1

Control (C)

5

10

2

Origin and Ownership (O2)

Origin (Or)

3

5

Ownership (Ow)

2

5

3

Reach (R)

5

10

4

Endurance (E)

5

10

 

(4) Bentuk Tes

Tes AQ polanya berbentuk skala semantik differensial, jumlah butir keseluruhan 30 (tigapuluh) dengan rentang alternatif pilihan sebanyak 5(lima) pilihan yakni dari skala 1(satu) sampai dengan 5(lima). Dari tigapuluh butir pertanyaan dan pernyataan itu yang diskor hanya 29 butir. Konstruksi dari tes ini dan cara skoring dapat dilihat pada lampiran.

 

(5) Validasi

(a) Validasi tampilan dan Isi tes AQ

Validitas tampilan dan isi tes AQ telah diketahui dari hasil penelitian Musthofa dan Djamaludin Ancok (2005:187) dilaporkan, bahwa hasil analisis korelasi butir-total yang berada di bawah batas signifikansi 5% pada N=30, yaitu didapat koefisien 0,361 dan nilai koefisien alpha (reliabilitas) dalam kategori baik yakni sebesar 0,9240. Dalam penelitian ini konstruk dan isi tes AQ mengadaptasi langsung dari instrumen yang dibuat oleh Stoltz (1997) dan validasi Musthofa dan Djamaludin Ancok (2005) digunakan sebagai acuan.

          (b) Validitas Empiris Tes AQ

Untuk melihat validitas empiris tes AQ dalam penelitian ini, kembali akan dilakukan analisis butir terhadap total dan menganalisis tingkat reliabilitasnya setelah diperoleh data hasil uji lapangan pada saat penerapan model saat validasi tahap uji kelompok kecil.

 

c) Tes Lokus Kendali

(1) Definisi Konseptual:

Lokus kendali adalah gambaran kecenderungan persepsi mahasiswa terhadap harapan dan ganjaran dalam melakukan berbagai kegiatan yang dalam kasus ini adalah kegiatan belajar. Lokus kendali diklasifikasi menjadi dua kategori, yakni lokus kendali yang berorientasi internal dan yang eksternal. Mahasiswa cenderung berorientasi lokus kendali internal jika kecenderungan persepsinya menunjukkan bahwa keberhasilan dalam melakukan kegiatan lebih ditentukan oleh usaha dirinya sendiri. Sebaliknya mahasiswa cenderung berorientasi lokus kendali eksternal jika kecenderungan persepsinya menunjukkan bahwa keberhasilan dalam melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan hidup lebih ditentukan oleh faktor-faktor di luar dirinya.

 

(2) Definisi Operasional:

Lokus kendali adalah skor hasil tes lokus kendali yang instrumennya dikembangkan dari Rotter (1966) mengadaptasi dari Abimanyu (1990) dan Mukhadis (2003). Terdapat 29 (duapuluh sembilan) pasang butir pertanyaan, dengan 6(enam) butir pertanyaan yang dipasang untuk membuat lebih mengaburkan tujuan tes dan tidak dilakukan pensekoran (Abimanyu, 1990:121). Enam pasang butir dimaksud adalah butir 1,8,14,19,24 dan 27.

 

(3)  Kisi-kisi Tes Lokus Kendali

Tabel 12

Rincian Butir Tes Lokus Kendali Menurut Aspek Yang Diukur

No.

Aspek yang diukur

Penjabaran butir

Jumlah

1

Keyakinan terhadap kehidupan yang sulit

 

1,7,14,20,21,26 dan 27

7

2

Keyakinan terhadap kehidupan yang tidak adil

 

4,5,10,19,23, dan 28

6

3

Keyakinan terhadap kehidupan yang tidak terdengar sebelumnya

 

2,6,8,9,11,13,15,16,18, dan 25

10

4

Keyakinan terhadap kehidupan yang tidak responsive secara politik

 

3,12,17,22,24 dan 29

6

 

(4) Bentuk Tes

Tes lokus kendali berbentuk pilihan 2(dua) alternatif jawaban A dan B, secara keseluruhan berbentuk sebuah angket. Kepada partisipan ditugaskan untuk merespon salah satu pilihan dari pernyataan A atau B.

 

(5) Validasi

(a) Validasi tampilan dan Isi tes Lokus Kendali

Dari eksemplar penelitian yang pernah dilakukan oleh Abimanyu (1990), Suharsono (1991), dan Mukhadis (2003) validitas tampilan dan isi tes lokus kendali dilaporkan cukup baik dan telah memenuhi syarat.

          (b) Validitas Empiris Tes Lokus Kendali

Untuk menjamin diperolehnya data tingkat lokus kendali yang valid, maka instrumen ini akan dilakukan uji ulang terlebih dahulu, meskipun validitas empirisnya sudah diketahui dari laporan-laporan penelitian terdahulu. Untuk melihat konstruk yang dimaksud  akan dilakukan analisis dan uji konfirmatori dari data empiris sehingga ditemukan konstruk yang relevan dengan penelitian ini.

 

2) Instrumen Perlakuan

Pada saat perlakuan, terhadap mahasiswa dikenai sejumlah instrument yang mencerminkan pola model asesmen teman sejawat, yaitu berupa log dan jurnal belajar.

Log dan jurnal belajar berisi laporan pribadi (self-report) yang isinya memuat catatan ringkas tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari mahasiswa.

Log berisikan tentang dimensi kegiatan: 1) apa yang sudah dibaca, 2) hasil pengamatan dari kegiatan percobaan, 3) pemecahan masalah yang matematis, 4) daftar bacaan yang telah dibaca di luar yang dipersyaratkan, 5) pekerjaan rumah yang telah diselesaikan, 6) atau catatan tentang sesuatu yang lain karena pinjam-meminjam. Dimensi-dimensi kegiatan tersebut merupakan pendukung kemampuan pemecahan masalah.

Jurnal belajar merupakan catatan secara naratif terkait dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari mahasiswa. Isinya bisa menyangkut hasil pengamatan pribadi, perasaan dan pendapat sebagai respon dari kegiatan membaca, atau suatu peristiwa/kejadian dan pengalaman. Jurnal belajar sebagai koleksi pribadi mahasiswa, berupa catatan dan pemikiran yang bernilai bagi penulisnya tentang apa yang telah dipelajari dan sifatnya sangat pribadi. Isi jurnal berhubungan dengan peristiwa belajar secara individu dan kolaboratif tentang apa yang telah dipelajari di dalam kelas dan dengan lingkungan di luar kelas. Melalui penggunaan log dan jurnal belajar, mahasiswa terbuka kesempatan untuk melakukan refleksi diri tentang kualitas dan kuantitas belajarnya, dapat mengidentifikasi kemampuan apa saja yang relevan seharusnya dia pelajari dan ditunjukan dalam kinerja pemecahan masalah. Selanjutnya mahasiswa akan terbimbing kesadaran perlunya belajar bekerjasama secara kolaboratif  dalam  meningkatkan kemampuan dalam dimensi-dimensi kompetensi yang diharapkan.

 
h. Validitas Internal Penelitian
Masalah mendasar dalam pelaksanaan percobaan adalah kontrol atau pengendalian yang tepat, sehingga perubahan yang terjadi pada hasil percobaan  adalah benar-benar disebabkan oleh adanya perlakuan yang diberikan, dan bukan karena pengaruh variabel-variabel lain. Untuk itu diperlukan pengendalian terhadap pelaksanaan percobaan. Semakin ketat pengendalian yang dilakukan, akan menunjukkan kualitas validitas internal. Validitas internal menunjukkan tingkat keketatan mengendalikan variabel-variabel luar (extraneous variable). Tingkat keketatan pengendalian berperan pada proses pelaksanaan percobaan yang berpengaruh terhadap hasil percobaan. Tujuan pengendalian variabel luar adalah agar diperoleh penjelas bahwa dampak yang timbul pada percobaan hanya diakibatkan oleh perlakuan. Ada 12(duabelas) hal yang harus dikendalikan, agar tidak mengancam tingkat validitas internal dalam percobaan (McMillan dan Schumacher, 2001:186-193; Wiersma, 1986:124-125). Berikut diuraikan cara pengendaliannya.

 

(1) Sejarah (history)

Percobaan yang memakan waktu cukup lama, dapat menimbulkan hal-hal yang terjadi di luar perlakuan. Adanya hal-hal yang terjadi di luar perlakuan selama percobaan berlangsung, menjadi ancaman bagi validitas internal yang disebut dengan sejarah (history). Dalam percobaan ini, adanya perubahan sikap partisipan selama percobaan berlangsung yang semakin gigih, bersedia mengikuti kursus akuntansi di luar jam kuliah meskipun harus membayar dengan mahal dan semacamnya, yang kemudian mempengaruhi hasil percobaan, merupakan perubahan bukan karena akibat perlakuan. Ancaman ini dihindari dengan cara membentuk kelompok belajar informal dalam misi belajar kolaboratif yang memang dipreskripsikan sehingga terhindar kemungkinan adanya peserta kuliah ikut kursus Akuntansi di luar jam kuliah atau semacamnya.

 

(2) Seleksi (selection)

Perbedaan hasil percobaan terkadang bukan disebabkan oleh perlakuan yang diterapkan, melainkan disebabkan oleh pemilihan atau seleksi subyek coba yang tidak tepat, yaitu pemilihan pada kelompok individu yang memang sudah berbeda adanya. Dalam percobaan ini, karena tak ada alternatif pilihan lain untuk kelompok kontrol dan kelompok percobaan yakni kelompok mahasiswa reguler dan kelompok mahasiswa swadana sehingga tidak dimungkinkan tindakan acak pada individu partisipan maupun kelas, maka ancaman dari faktor seleksi ini diatasi dengan cara melakukan prates untuk kemampuan pemecahan masalah. Hasil rerata prates dibandingkan antara kelompok mahasiswa reguler (kelompok coba) dan kelompok swadana (kelompok kontrol), jika ditemukan perbedaan yang signifikan maka variat hasil prates digunakan sebagai kovariat dalam rancangan analisis data, sehingga harus menggunakan analisis kovarian dalam mencari penjelas variabel bebas terhadap variabel hasil perlakuan. Selain itu variabel karakteristik individu berupa adversity quotient dan lokus kendali juga digunakan untuk melakukan kontrol dan pemoderasi terhadap hasil percobaan.

 

(4)  Regresi Statistik (Statistical Regression)

Ancaman terhadap validitas internal yang disebut regresi statistik, adalah bersumber dari oleh adanya skor ekstrim baik berupa skor dalam kutub pencilan atas ataupun skor dalam kutub pencilan bawah dari variat skor variabel terikat. Untuk menghindari ancaman dari kondisi regresi statistik ini, data variat hasil percobaan dilakukan uji normalitas untuk membuktikan bahwa data berdistribusi normal atau tidak mengandung data pencilan; dan uji homogenitas untuk membuktikan bahwa data didapat dari populasi yang homogen. Hasil uji ini menunjukkan data berdistribusi normal dan homogen.

 

(5)  Pra-pengujian (Pretestting)

Adanya pengujian atau tes yang dilakukan sebelum dan selama percobaan berlangsung menjadi ancaman validitas internal, karena ada kemungkinan terjadi bahwa hasil yang diperoleh dari percobaan dipengaruhi oleh dampak pengujian atau tes tersebut. Desain percobaan yang mengenal pratest dan pascatest memungkinkan adanya peningkatan (gain) skore yang terjadi dipengaruhi oleh proses pengalaman dan ingatan saat mengikuti prates atau tes sebelumnya yang masih melekat. Ancaman ini dapat dihindari dengan cara membuat pasca tes yang bersifat paralel, organisasi tampilan berbeda dengan pratesnya tetapi karakteristik kisi-kisinya sama, substansinya analog dengan prates serta memenuhi syarat kesetaraan, validitas dan reliabilitas.

 

(5) Instrumentasi (Instrumentation)

Pemanfaatan instrumen dalam percobaan dapat menjadi ancaman validitas internal; ini dapat dimungkinkan jika terjadi penggunaan instrumen yang sama antara sebelum dan sesudah perlakuan. Penggunaan lembar observasi untuk mengamati proses dalam percobaan menimbulkan kecenderungan pengamat memihak pada kelompok coba daripada kelompok kontrol. Dalam perobaan ini dapat dihindari karena preskripsi yang dibuat untuk asesmen menerapkan teknik pengamatan teman sejawat.

 

(6) Ketertinggalan Subyek Perlakuan  (Subject Attrition)

Yang dimaksud dengan ketertinggalan subyek perlakuan adalah adanya individu anggota sampel tidak mengikuti percobaan secara lengkap sampai selesai, akibatnya data yang diperlukan tidak lengkap. Hal ini diatasi dengan jalan dilakukan presensi daftar hadir yang ketat setiap sesi pelaksanaan pembelajaran selama percobaan berlangsung hingga selesai.

 

(7) Kematangan (Maturation)

Pelaksanaan percobaan yang lama juga menimbulkan efek perubahan pada fisik dan psikologis diri subyek coba. Bertambahnya pengalaman dari waktu ke waktu selama percobaan pada diri subyek coba akan menimbulkan kematangan secara kognitif untuk hal-hal lain di luar perlakuan atau hal-hal di luar yang dikendalikan dalam penelitian. Untuk menghindari hal ini maka substansi isi bahan belajar dari setiap pertemuan telah dipreskripsi sedemikian rupa mengikuti elaborasi pengetahuan yang prosedural dan sistematis, selain itu lama percobaan dirancang lebih singkat hanya menggunakan kurang lebih separoh waktu dari target waktu kalender kuliah, yakni 7(tujuh) minggu pertemuan dan hanya meliput satu cakupan substansi Akuntansi perusahaan jasa.

 

(8) Diffusi Pelaksanaan Perlakuan (Diffusion of Treatment)

Diffusi atau pengaruh perlakuan terhadap kelompok coba dapat menimbulkan ancaman terhadap validitas internal. Perlakuan yang lebih baik terhadap kelompok coba daripada kelompok kontrol akibat adanya intervensi terhadap variabel-variabel yang diteliti, jika diketahui oleh anggota subyek kelompok kontrol dapat menimbulkan tuntutan rasa keadilan atas perlakuan yang sama dengan kelompok coba. Hal ini terjadi jika lokasi antara kelompok kontrol berdekatan dengan kelompok coba. Untuk mengatasi ancaman ini maka peluang untuk saling mengetahui kondisi di antara anggota pada kedua kelompok tersebut harus diminimalkan. Oleh karena itu dalam pelaksanaan percobaan ini semua kegiatan perlakuan dalam pembelajaran pada kedua kelompok tidak saling diberitahukan, semua kegiatan diusahakan berjalan normal, dan alami sedemikian rupa sebagaimana situasi perkuliahan pada umumnya. Dengan demikian adanya perbedaan perlakuan dianggap oleh mahasiswa sebagai suatu variasi metode mengajar dosen untuk kelas tertentu saja.

 

(9) Efek Pemberi Perlakuan (Experimenter Effects)

Acapkali peneliti memberikan kompensasi kepada kelompok kontrol karena mereka tidak mendapat fasilitas perlakuan; hal ini dapat menyebabkan hasil percobaan dipengaruhi oleh tindakan kompensasi, bukan semata-mata akibat dari intervensi perlakuan. Untuk menghindari ancaman ini maka dalam percobaan ini kelompok coba dan kelompok kontrol diberi fasilitas yang relatif sama yakni berupa bahan belajar dan tugas-tugas sesuai dengan isi dan struktur sajian pada satuan acara perkuliahan. Perlakuan yang berbeda terletak pada pola pengelolaan belajar kolaboratif dan praktik asesmen teman sejawat. Intervensi pengelolaan belajar dan asesmen hanya pada kelompok coba. Pada kelompok kontrol diperlakukan secara konvensional pola pembelajaran maupun asesmennya.

 

(10) Replikasi Perlakuan (Treatment Replications)

Dalam percobaan acapkali perlakuan harus dilakukan secara berulang, akibatnya anggota dari salah satu kelompok percobaan menerima perlakuan yang sama secara terpisah dan bebas dari anggota lain dalam kelompoknya. Replikasi perlakuan menjadi ancaman validitas internal karena hasil perlakuan ulangan terkena dampak ikutan (carry-over effect) pengaruh perlakuan sebelumnya. Hasil replikasi demikian tidak dapat memberi arti terhadap hasil percobaan dan tak dapat dimaknai. Oleh sebab itu perlu disadari bahwa hasil yang bagaimanapun, interpretasi dan kesimpulan harus dibuat secara berhati-hati. Ancaman ini dihindari dengan cara menyusun preskripsi perlakuan asesmen yang sama tetapi pada substansi isi bahan belajar yang bervariasi menurut jenjang tingkat kesulitan dan kompleksitas prosedur pemecahan masalah berupa sampel program pembelajaran. Dalam analisis data, menggunakan desain evaluasi formatif model Astin untuk mendeteksi pengaruh melalui analisis Input - Environtment – Outcome model sehingga interpretasi dan kesimpulan yang didapat tidak menyesatkan.

 

 

(11) Pengaruh Subyek (Subject Effects)

Ancaman ini muncul akibat kehilangan semangat pada kelompok kontrol karena ada perasaan tidak dibutuhkan dalam kegiatan percobaan. Akibatnya, hasil tes mereka berada di bawah dari kemampuan sebenarnya. Perbedaan hasil tes antara kelompok kontrol dengan kelompok coba menjadi besar, tetapi bukan disebabkan karena intervensi perlakuan melainkan akibat faktor lain. Untuk menghindari ancaman ini, maka dalam pelaksanaan percobaan di antara mahasiswa reguler dan mahasiswa swadana tidak perlu disebutkan kelompok yang mana yang menjadi kelompok coba dan yang mana yang menjadi kelompok kontrol.

 

(12) Kesimpulan Statistik (Statistical Conclusion)

Statistik seringkali digunakan sebagai dasar untuk membuat kesimpulan atas praduga dan hubungan. Ada beberapa prinsip statistik yang mengganggu dan dapat mempengaruhi tindakan inferensi yang dibuat dari hasil penelitian yang kemudian diikuti oleh kesimpulan penelitian (Cook dan Campbell,1979). Peneliti dituntut untuk memahami, dan bahkan menggunakan kepekaan impresif dan melihat statistik bukan sebagai jaminan akan validitas hasil penelitian. Untuk itu dalam penelitian ini hasil temuan analisis data statistik akan dielaborasi dengan pendekatan evaluasi I-E-O dan kualitatif lainnya dalam proses asesmen dengan perangkat log dan jurnal.  

Setelah memperhatikan berbagai ancaman validitas internal dan merancang tindakan untuk mengendalikannya, diharapkan penelitian ini memenuhi tujuan yang diinginkan dan model yang dipreskripsikan dapat memenuhi kaidah-kaidah untuk dideseminasi lebih lanjut bagi pengguna.

 

i. Validitas Eksternal

Terkait dengan validitas eksternal yakni validitas populasi dan validitas ekologi, generalisasi dari hasil penelitian ini tidak berlaku untuk pembelajaran matakuliah secara umum, tetapi dengan melihat pada karakteristik isi pengetahuan yang bersifat prosedural dan substansinya mengandung berbagai ragam pengetahuan dan kemampuan pemecahan masalah maka hasil-hasil dari model pengembangan ini dapat dipakai sebagai landasan generalisasi untuk mengembangkan asesmen dan pola pembelajaran pada matakuliah yang lain karena pemilihan subyek coba telah diupayakan mengikuti prosedur metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu validitas eksternal dari hasil penelitian ini lebih tergantung pada kesamaan kondisi-kondisi yang mempengaruhi hakekat dari isi hubungan variabel-variabel bebas dan terikat yang dipengaruhi oleh kecenderungan subyek yang diteliti untuk berbuat tidak seperti apa adanya karena pengaruh situasi yang diketahui sebelum percobaan (howthorne effect). Maka dari itu kontrol yang dilakukan: (1) tidak memberitahukan tentang status subyek percobaan kepada mahasiswa; (2) tidak merubah jadwal penawaran kuliah; (3) tidak mengganti dosen lain selain yang sudah lazim membina kuliah Akuntansi; (4) pengamatan proses pelaksanaan percobaan dilakukan dengan cara tersamar didukung oleh penggunaan log dan jurnal belajar dan konfirmasi teman sejawat mahasiswa di luar jam kuliah.

Meskipun uji efektivitas model ini hanya terbatas dalam satu matakuliah di Prodi Pendidikan Ekonomi FKIP Unlam, dengan pengendalian yang demikian uji model lebih lanjut dapat dilakukan pada lembaga pendidikan tinggi lain, karena matakuliah Akuntansi di semua lembaga pendidikan pada dasarnya mempunyai struktur dan isi yang sama. Oleh sebab itu validitas eksternalnya terletak pada sejauh mana desain dan kondisi-kondisi yang menyertai penelitian ini untuk direplikasikan ulang pada matakuliah lain yang sejenis, ataupun yang lain sepanjang memiliki struktur dan isi yang mirip dengan struktur dan isi pada matakuliah Akuntansi perusahaan jasa.

 

j. Teknik Analisis Data

          Data kemampuan mahasiswa tentang kemampuan pemecahan masalah sebagaimana disinggung di muka terdiri dari data tentang kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah dan data tentang kemampuan menemukan prosedur baru pemecahan masalah. Data ini diukur dari hasil tes dan perkembangan kemampuan pada prates dengan pascates, baik pada keseluruhan kegiatan kuliah maupun dalam tiap tahapan preskripsi Satuan Acara Perkuliahan (SAP). Pola perubahan perkembangan hasil tes kemampuan ini sebagai dasar untuk melihat efek dari penggunaan model asesmen yang dikembangkan pada preskripsi model pengelolaan belajar yang kolaboratif.

          Berikutnya teknik analisis data tentang pencapaian kompetensi akuntansi dari penerapan model MATS diukur dengan menggunakan persentase yang dihitung dengan mengadaptasi formula Glass,1978 (Wayan Ardana dan Verna Willis, 1989:172) sebagai berikut :

 

 

 

 

Q1- Q2

 

 

 

 

E

=

X

100%

 

 

 

Qo

 

 

Di mana :

E = persentase besarnya pengaruh (efek) dari perlakuan (treatment) pelaksanaan jenis kompetensi atau kemampuan yang diajarkan dalam kuliah

Qo = besarnya tingkat kompetensi atau kemampuan awal atau sebelum dilakukan kuliah dengan pola kolaboratif dengan asesmen teman sejawat untuk kompetensi akuntansi (hasil prates).

Q1 = besarnya tingkat kompetensi Akuntansi sesudah dilakukannya kuliah pola kolaboratif dengan asesmen teman sejawat (hasil dari pascates).

Untuk menguji efektivitas perlakuan dari intervensi model digunakan teknik analisis kovarians. Selanjutnya untuk mengelaborasi lebih lanjut, analisis dilengkapi dengan pendekatan  evaluasi  model I-E-O

yang terdiri dari: (1) untuk memeriksa pengaruh variable input digunakan pendekatan analisis regresi ganda dilanjutkan dengan korelasi parsial atau dengan regresi bertahap (stepwise regression), (2) untuk mengases efek atau pengaruh dari variable lingkungan (perlakuan model asesmen MATS) digunakan pendekatan analisis perbandingan rerata residu variat variable outcome pada antar situasi lingkungan sebagaimana pola pendekatan Drew (1983) dan direferensikan oleh Astin (1993:278).

Untuk menganalisis informasi tentang tanggapan dosen, mahasiswa dan pilihan prioritas terhadap identifikasi kebutuhan model asesmen dan pola belajar digunakan teknik deskriptif dan kualitatif.