Make your own free website on Tripod.com

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Dalam PP No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan telah diatur standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan tinggi pada Pasal 26 ayat (4); sedangkan mengenai standar pendidik dan tenaga kependidikan dinyatakan bahwa pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sebagai agen pembelajaran, pendidik harus memiliki (1) kompetensi pedagogik; (2) kompetensi kepribadian; (3) kompetensi profesional; dan (4) kompetensi sosial. Tuntutan kualifikasi akademik dan kompetensi pendidik menjadi acuan bagi seluruh proses kegiatan pembelajaran di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).

Proses pembelajaran ditujukan untuk memfasilitasi seluas-luasnya bagi mahasiswa agar mengembangkan potensi yang dimiliki, mampu mencapai kualifikasi dan menguasai kompetensi. Tujuan jauh ke depan, diharapkan dapat mengemban misi belajar hidup bersama sehingga dapat memecahkan masalah di masyarakat dalam menghadapi tantangan kemajuan perkembangan global. Tujuan ini hanya akan dicapai jika proses pembelajaran di LPTK berlangsung secara bermakna. Bermakna jika hasilnya dapat memberi dampak bagi kesejahteraan, dan sebaliknya jika justru menciptakan beban bagi masyarakat.

Proses pembelajaran di perguruan tinggi saat ini masih banyak menekankan pengembangan mahasiswa sebagai individu dan jarang yang mengembangkan mahasiswa sebagai kelompok. Konsep keberhasilan masih merujuk pada hasil kompetisi daripada kerjasama. Keberhasilan masih diorientasikan pada kemandirian (independence) daripada kesalingtergantungan (interdependence). Fenomena seperti ini menjauhkan mahasiswa dari semangat kerjasama dan solidaritas sosial, dan akhirnya menjadi sumber peyebab kesenjangan hasil pendidikan yaitu yang kuat akan berkembang, yang lemah akan tertinggal. (Zamroni, 2000:145).

Dalam era global budaya kompetisi yang berorientasi pada kemandirian sudah digeser oleh paradigma manajemen modern yang memandang keberhasilan bukan buah dari kompetisi dan kemandirian individu tetapi justru dari kesalingtergantungan (Stephen R. Covey, 1997:38).    Untuk mengantisipasi dan menghadapi tantangan kehidupan masa depan, praktek pendidikan harus bersandar pada sendi-sendi pendidikan yang dianjurkan Jacques Dellor (UNESCO-APNIEVE, 2000:20) yakni: (1) belajar mengetahui (learning to know, (2) belajar berbuat (learning to do), (3) belajar menjadi diri sendiri (learning to be), dan (4) belajar hidup bersama (learning to live together.

Sejalan dengan itu pembelajaran dengan pendekatan individu, perlu diimbangi dengan pendekatan yang berbasis kelompok. Pendekatan berbasis kelompok mengembangkan kemampuan mahasiswa untuk belajar menyadari adanya kesalingtergantungan, kesadaran untuk berperanserta, bekerjasama, saling menghargai antara sesama dalam semua kegiatan.

Proses pembelajaran pada kondisi empiris berikut menggambarkan  substansi masalah ini.

Dari pengalaman membimbing kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan acapkali dikeluhkan oleh guru pamong dan Kepala Sekolah latihan bahwa mahasiswa praktik belum berani mengajar matapelajaran ekonomi yang berisi pokok bahasan Akuntansi. Fenomena ini dapat ditengarai akibat mahasiswa belum menguasai kemampuan pemecahan masalah materi bidang studi akuntansi.

Dari pengalaman membina kuliah praktikum Akuntansi, hampir sebagian besar mahasiswa tidak menguasai proses pemecahan masalah secara sistematik. Mahasiswa kebanyakan selalu mencurahkan perhatian langsung pada jawaban pemecahan akhir, tanpa mempedulikan jenis, sifat dan prosedur yang harus diikuti secara prosedural dan sistematik. Mahasiswa kebanyakan gagal dalam mengoperasionalkan penguasaan pengetahuan pemecahan masalah kedalam situasi simulasi pekerjaan Akuntansi.

Ada dugaan bahwa pola pembelajaran dan penugasan yang individual serta parsial dari sistem prosedur pemecahan masalah saat mengikuti kuliah-kuliah prasyarat untuk praktikum menimbulkan ketidak-mampuan mahasiswa menggabungkan kemampuan itu menjadi satu kesatuan yang tersistem sebagai kegiatan pemecahan masalah yang prosedural. Akibat lanjutannya uji transfer dari penguasaan kemampuan pemecahan masalah para mahasiswa masih lemah.

Berikutnya dari hasil pengamatan terhadap kegiatan perencanaan kuliah. Mahasiswa memprogramkan matakuliah tingkat lanjut untuk kelompok mayor bidang studi Akuntansi rata-rata pada semester akhir. Padahal penguasaan materi bidang studi Akuntansi merupakan pendukung kompetensi utama untuk bisa praktik mengajar. Parahnya lagi apabila masa studinya hampir habis, mahasiswa kebanyakan menempuh kuliah pada semester sisipan melalui Program Alih Tahun (PAT). Argumentasi mereka menempuh kuliah melalui PAT pasti lulus karena sudah bayar. Padahal argumentasi ini tidak benar. Akibatnya bagi mahasiswa yang tidak lulus sekali tempuh akan mengalami penggeseran waktu studi yang semakin lama.

Data terakhir tahun 2002, lama studi mahasiswa rata-rata di FKIP UNLAM  5,2 tahun (Suratno, 2003). Berarti telah terjadi pemborosan lama studi rata-rata 1,2 tahun untuk efisiensi internal program studi. Akibat lainnya adalah bahwa pada saat mahasiswa menempuh program PPL II, hanya punya bekal kompetensi yang masih minim karena baru didukung penguasaan materi Pengantar Akuntansi. Pada saat PPL II idealnya mahasiswa paling tidak sudah menempuh dan lulus matakuliah Akuntansi Menengah II dan Akuntansi Lanjutan II sehingga kompetensinya cukup memadai untuk bekal mengajar. Masalah ini memang tak ada pengaruh langsung terhadap penguasaan kemampuan pemecahan masalah ataupun praktek sistem asesmen, tetapi secara tidak langsung ada keterkaitan dengan proses pembelajaran yang menjadi tanggungjawab lembaga dan menunjukkan perlunya kesadaran perlunya restrukturisasi proses pembelajaran dan sistem asesmen yang diberlakukan.

Penelitian tentang pemahaman materi kurikulum Ekonomi 1994 SMU di Yogyakarta hasilnya mirip dengan substansi kasus ini. Penelitian tersebut menemukan bukti alasan mengapa mahasiswa merasa sulit mengajarkan materi tertentu. Alasan utamanya adalah selain mahasiswa tidak menguasai materinya itu sendiri, juga karena merasa tidak menguasai metode mengajarkannya (Suyanto, 1999:112).

Semua masalah itu diindikasikan akibat oleh strategi pengelolaan pembelajaran serta tidak tepatnya sistem asesmen yang diterapkan pada matakuliah Akuntansi. Peristiwa-peristiwa tersebut pada dasarnya merugikan mahasiswa maupun lembaga, dan merupakan masalah bagi proses  pembelajaran karena: (1) merupakan indikasi belum efektifnya fungsi asesmen sebagai assessment for learning di tingkat matakuliah, (2) indikasi belum efektifnya strategi pembelajaran yang diterapkan dosen yang menjadi penyebab adanya kesenjangan penguasaan kompetensi untuk  mengajar; (3) inefisiensi pada indikator lama studi mahasiswa yang mengakibatkan pemborosan sumberdaya; (4) turunnya soliditas di kalangan pengguna terhadap kompetensi lulusan yang berimplikasi pada rendahnya mutu efisiensi eksternal.

Selain hal-hal yang telah dipaparkan di muka, kondisi kancah dan lingkungan sekolah juga mempengaruhi kompetensi guru, dan mendorong pemikiran perlunya rancangan tindakan untuk antisipasi bagi pembentukan kompetensi. Hasil identifikasi persepsi guru Ekonomi/Akuntansi di DIY menunjukkan bahwa di sekolah-sekolah pada umumnya masih mengalami keterbatasan kelengkapan perangkat kurikulum; kurang waktu untuk pokok bahasan tertentu, realisasi alat bantu/media belajar belum terlaksana; materi ekonometri dirasa sulit oleh guru dan motivasi siswa rendah (Sukamto, 2000:60). Pendidikan calon guru harus membekali strategi pembelajaran untuk membentuk kompetensi yang mampu mengendalikan situasi-situasi kancah seperti dipersepsi oleh guru-guru tersebut.

Salah satu pendekatan pembelajaran berbasis kelompok adalah belajar kolaboratif (collaborative learning) yang teorinya digagas oleh Bruffee (Zamroni 2000:156-157). Belajar kolaboratif mengandung ajaran nilai-nilai perdamaian, hak-hak azasi manusia, demokrasi dan pembangunan yang berkelanjutan. Dalam konsep belajar kolaboratif dijelaskan bahwa pencarian dan konstruksi pengetahuan merupakan sebuah proses yang memadukan aktivitas intelektual, sosial dan emosi secara dinamis.

Robert E. Slavin dan Nancy A. Madden (Zamroni,  2000:146) telah membuktikan bahwa kerjasama menghasilkan prestasi akademik lebih tinggi, menciptakan kemampuan melakukan hubungan sosial lebih baik, meningkatkan rasa percaya diri, dan mampu mengembangkan saling percaya di antara sesama individu maupun kelompok.

Dosen sebagai fasilitator belajar perlu memahami kondisi yang memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk dapat mengembangkan potensi yang dimiliki mahasiswa dan mencari strategi pembelajaran  yang memenuhi ragam kebutuhan belajar menurut latar individu mahasiswa secara sinergis.

Sejalan dengan pandangan Frederickson dan Pratt,1995 (Siddharta Utama, 2003:104) ke depan, pendidik harus memiliki kompetensi sesuai dengan yang dituntut oleh para pengguna jasa di bidang akuntansi. AECC, 1989; Mueller & Simmons, 1989 (Huang, O’shaughnessy dan Wagner, 2005:1) juga mendukung bahwa mahasiswa harus dapat meningkatkan kemampuannya agar kelak menjadi sukses dalam karier secara profesional. Untuk itu perlu dilakukan restrukturisasi proses pendidikan bagi akuntan pendidik jika mengingat kemajuan teknologi informasi begitu pesat dan tolok ukur kinerja kegiatan sektor swasta dan publik yang dituntut murah, efisien, efektif, kompetitif, bernilai tambah, dan memuaskan bagi konsumen. Salah satu implikasinya calon akuntan pendidik harus dibekali kompetensi yang relevan dengan tuntutan perubahan tersebut, di antaranya kemampuan pemecahan masalah (problem solving)  dan keterampilan kerja kolaboratif. Pemikiran ini searah dengan pandangan Albrecht dan Sack, 2000 (Siddharta Utama, 2003: 105).

Kemampuan pemecahan masalah dan keterampilan kerja kolaboratif sangat penting bagi mahasiswa karena merupakan kebutuhan mendasar untuk meraih sukses kelak di masyarakat yang kondisinya begitu beragam. Pernyataan Harm Harms, Stehr dan Harris (1972:1) berikut mempertegas hal ini:

Education for business appears at times to be dependent on a mechanistic appraoch which places maximum stress upon acquiring routinized skills to the exclusion of decision-making and problem-solving that are primary requisites to success in a complex society.

 

          Kesempatan belajar tentang kemampuan pemecahan masalah dan keterampilan kerja kolaboratif bagi mahasiswa calon guru semestinya harus sudah dikembangkan dalam kuliah agar dapat ditumbuh-kembangkan perilaku kecakapan ini dan ditransfer menjadi kompetensi yang handal tatkala mereka mengemban profesi sebagai guru. Dalam pemikiran Bruner, 1966; Gagne, 1977; dan Rigney, 1978 (Reigeluth, 1983:361) dalam strategi kognitif kemampuan ini harus diaktifkan dalam pembelajaran, karena termasuk dalam kecakapan berpikir (thinking skills) dan kecakapan belajar (learning skills).

Dalam konteks yang demikian idealnya pembelajaran Akuntansi harus mampu membantu terbentuknya kemampuan transfer belajar kemampuan pemecahan masalah dan keterampilan kerja kolaboratif. Dalam pembelajaran Akuntansi dengan pendekatan kolaboratif yang menjadi persoalan adalah bagaimana cara mengajarkan kemampuan pemecahan masalah itu dan melakukan asesmennya.

Kemampuan pemecahan masalah dalam batas-batas tertentu memang dapat dibentuk melalui bidang studi dan disiplin ilmu yang diajarkan Wood (1987:66); Greenfield (1987:15) sebagaimana dikutip Suharsono (1991:1) tetapi praktek asesmen untuk pengelolaan pembelajaran secara kolaboratif saat ini masih banyak dipersoalkan.

Tradisi asesmen secara konvensional selama ini tidak mencerminkan kebermaknaan belajar. Praktek evaluasi dalam tradisi asesmen konvensional cenderung mengutamakan penggunaan tes formal (paper and pencil test) yang dilandaskan pada asumsi bahwa prestasi belajar hanya dapat diperoleh dari hasil kerja individu. Situasi ini mendorong penggunaan tes formal secara berlebihan untuk tujuan semua jenis penilaian. Akibatnya menimbulkan masalah serius dan disangsikan manfaatnya  oleh para ahli dan praktisi pendidikan. Tes formal diprediksi hanya mampu menghasilkan pengembangan kognitif semata, penggunaannya tidak tepat jika untuk semua jenis penilaian, selain itu masih memiliki keterbatasan. Keterbatasannya antara lain (1) ketergantungan yang terlalu besar pada pola acuan normatif dalam menentukan prestasi belajar, (2) menimbulkan kebingungan guru terhadap apa yang mesti diajarkan karena adanya orientasi pada keberhasilan dalam mengerjakan tes (test-oriented learning), dan (3) ketergantungan yang sangat besar pada pengukuran obyektif dan numerik (Salvia dan Ysseldike, 1996:243). Asesmen dengan tes formal tidak mampu mengukur kemampuan mahasiswa yang sebenarnya karena hanya terfokus pada beberapa aspek saja. Asesmen dengan tes formal juga tidak memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan atau potensi dan kelebihan masing-masing.

Kesangsian dan keberatan terhadap praktik evaluasi semacam ini telah berlangsung lebih dari satu dasa warsa dan telah memunculkan apa yang disebut asesmen alternatif (alternative assessment) dengan pendekatan antara lain performance-based assessment, portfolio assessment dan authentic assessment (Knapper & Cropley, 2000:85).

Pada sistem belajar kolaboratif asesmen atau penilaian tidak berlandaskan asumsi bahwa prestasi belajar hasil dari kinerja individu semata, melainkan justru diperoleh selain dari kinerja individu sendiri juga ditentukan oleh kemampuan teman sejawat pada saat individu terlibat dalam proses belajar secara kolaborasi. Melalui belajar kolaboratif mahasiswa dapat mengklarifikasi dan memperoleh pengertian, memecahkan masalah, menciptakan sesuatu yang baru; dan akhirnya mereka dapat memperkuat pemahaman materi kuliah. Melalui kerjasama kolaborasi mahasiswa dapat saling belajar tentang seni dan keahlian, dengan membangun hubungan antara sesamanya timbul rasa tanggungjawab terhadap hasil kreasi dan pengetahuannya, memahami esensi keahlian untuk belajar sepanjang hayat (Jean McGregor diambil tanggal 27 Mei 2005 dari http://www,evergreeb,edy/ washcenter/resources/acl/Intro.html). Karakteristik belajar kolaboratif yang demikian membutuhkan sistem dan strategi asesmen alternatif yang berbeda dengan yang diterapkan pada tradisi asesmen konvensional.

Pada sisi lain Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 telah menggariskan perlunya pengembangan asesmen berdasar standar kompetensi lulusan yang ingin dicapai yang memiliki sifat autentik, terbuka, holistik dan integratif baik pada level matakuliah, program studi, jurusan dan fakultas serta sertifikasi kompetensi dengan maksud untuk menjamin bahwa setiap guru telah menguasai kompetensi yang dipersyaratkan (PSABK, 2005:8). Pengembangan asesmen dibutuhkan untuk memenuhi fungsi membantu mahasiswa mencapai kompetensi yang diharapkan, dan mengetahui tingkat pencapaian kompetensi tersebut. Dosen harus mengembangkan pengalaman belajar, indikator pencapaian, dan strategi asesmen selama proses pembelajaran untuk mengetahui pencapaian kompetensi mahasiswa dan meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Secara fungsional kemampuan transfer belajar kemampuan pemecahan masalah dan keterampilan kerja kolaboratif menjadi bagian inti dari pembentukan kompetensi. Peristiwa dan proses belajar Akuntansi termasuk kategori belajar yang sulit, karena kemampuan pemecahan masalah dalam matakuliah Akuntansi bersifat kompleks dan prosedural. Untuk menguasai sebuah kompetensi pemecahan masalah Akuntansi tertentu, pebelajar perlu penguasaan prasyarat kemampuan sebelumnya karena ada keterkaitan ranah sebagai dasar pengembangan belajar baik pengetahuan, ketrampilan maupun sikap di dalamnya.  Dibutuhkan kondisi pengelolaan pembelajaran yang kolaboratif agar mahasiswa dapat lebih mudah dan lebih efisien dalam proses belajar pemecahan masalah Akuntansi. Implikasinya dalam pelaksanaan proses pembelajaran diperlukan suatu sistem asesmen yang dapat memantau keseluruhan proses dan aspek-aspek belajar yang terkait dengan pembentukan kompetensi itu. Praktek sistem asesmen yang dibutuhkan adalah yang bermakna, yang melibatkan mahasiswa, dan memenuhi fungsi perbaikan dan pemberdayaan mahasiswa sehingga harus dihindari adanya praktek asesmen yang menitikberatkan hanya pada hasil. Asesmen yang menitikberatkan pada hasil dapat menimbulkan ketidaktepatan keputusan didaktik tentang penguasaan kompetensi mahasiswa baik dalam perencanaan, proses maupun hasil dari pembelajaran.

Pada sisi lain pelaksanaan asesmen ketercapaian standar kompetensi yang dijabarkan menjadi kompetensi utama dan kompetensi pendukung, maupun  kompetensi lainnya tidak bisa hanya mengandalkan tes formal (paper and pencil test) saja, melainkan harus dilakukan terhadap proses perolehan, penerapan pengetahuan dan ketrampilan, melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam proses maupun produk (Asmawi Zainul, 2001:4). Penggunaan asesmen menjadi penting karena dapat memberikan informasi yang lebih banyak tentang kecakapan mahasiswa, bukan sekedar memperoleh informasi benar dan salah saja. Atas dasar kondisi ini maka penggunaan alternatif dari tes formal yang lain berupa asesmen merupakan kebutuhan mendesak untuk dikembangkan dalam praktik penilaian dan pembelajaran yang memenuhi standar nasional pendidikan.

Dalam implementasi belajar pemecahan masalah, selain metode pembelajaran, bakat pebelajar merupakan determinan penting keberhasilan belajar mahasiswa (R.C. Gardner, 2001:1). Tindakan memfasilitasi berkembangnya potensi pebelajar melalui peristiwa belajar dapat membentuk kemampuan dasar (nyata) yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi pada situasi sekarang maupun situasi mendatang. Amad Mukhadis (2003:129) berkesimpulan bahwa strategi pengorganisasian isi model elaborasi ternyata lebih unggul dibandingkan dengan model urutan linier bertahap dalam hal hasil dan transfer belajar pengenalan pola, urutan tindakan prosedural pada kelompok pebelajar yang berorientasi lokus kendali (locus of control) eksternal; hal yang sama ditemukan pada kelompok pebelajar yang memiliki kondisi bakat berpikir mekanik apa pun.

Terkait dengan pengembangan kemampuan pemecahan masalah dalam bidang Akuntansi, faktor pembawaan pebelajar seperti lokus kendali dan tingkat kemampuan berpikir secara tak langsung ternyata  menentukan efektivitas penggunaan alternatif strategi perkuliahan  (Suharsono, 1991:2). Demikian juga faktor ‘adversity quotient’ (kemampuan untuk bertahan dalam kesulitan) yang berperanan untuk memberdayakan potensi pebelajar akan menentukan  ketajaman intuisi dalam mempersepsi dan mengatribusi permasalahan sebagai pertimbangan dalam memecahkan masalah untuk mengambil keputusan (Musthofa dan Djamaludin Ancok, 2005:180). Dengan demikian variabel metode pembelajaran, lokus kendali, kemampuan berpikir dan ‘adversity quotient’ merupakan variabel-variabel penting yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan model asesmen dan pembelajaran bidang Akuntansi.

 

B. Identifikasi Masalah dan Perumusan Masalah

Pada dasarnya, mutu pembelajaran di LPTK sangat dipengaruhi oleh faktor dosen sebagai pengajar dan mahasiswa sebagai pebelajar. Perkembangan global teknologi informasi yang begitu cepat menuntut adanya perubahan dan penyesuaian pada aspek pembelajaran. Upaya peningkatan mutu pembelajaran melalui pengadaan fasilitas serta sumberdaya membutuhkan perencanaan yang cermat, waktu yang panjang, tenaga dan biaya, serta birokrasi yang rumit sementara tuntutan mutu lulusan tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Mengingat keterbatasan fasilitas dan kemampuan sumberdaya maka peningkatan mutu perkuliahan melalui perubahan dan penyesuaian aspek-aspek sistem asesmen yang sesuai dengan strategi pengelolaan, pengorganisasian isi pembelajaran merupakan alternatif tindakan yang paling adaptif untuk dilakukan. Perubahan dan penyesuaian ketiga aspek itu sangat erat kaitannya dengan kapasitas pengajar.

Di sisi lain faktor internal mahasiswa sangat penting untuk disadari pengaruhnya, seperti, kemampuan berpikir, lokus kendali, ‘adversity quotient’ dan lainnya. Perkuliahan Akuntansi tidak terlepas dari pengaruh variabel-variabel tersebut.      Bila dihubungkan dengan kegiatan belajar kolaboratif, penguasaan kompetensi tentang kemampuan pemecahan sulit untuk dibangun mengingat hakikat kemampuan pemecahan masalah sifatnya kompleks dan prosedural melibatkan berbagai komponen kemampuan yang penyajiannya memerlukan ragam prosedur proses elaborasi dari epitome yang rinci, spesifik dan sederhana hingga variasi yang luas (Reigeluth, 1983:369), maka diperlukan persiapan dan pelaksanaan perkuliahan yang mantap, terancang dan tepat arah sesuai dengan tujuan.

Pelaksanaan perkuliahan Akuntansi dewasa ini masih kurang efektif. Di pihak dosen kesulitan yang paling dirasakan adalah pada tindakan asesmen dan pemilihan strategi pengelolaan belajar. Dosen tidak pernah menyediakan tawaran-tawaran alternatif kegiatan asesmen dan belajar-mengajar yang mengikuti faktor pembawaan mahasiswa. Tidak pernah mencoba untuk menerapkan tindakan asesmen alternatif, proses pembelajaran secara kerjasama kolaboratif, yang sering adalah tindakan asesmen menggunakan tes formal dengan pendekatan pembelajaran individual. Penstrukturan materi masih selalu memisahkan antara teori dan praktik, antara abstrak dan konkrit, belum pernah menggagas preskriptif penstrukturan materi elaborasi ide yang berangkat dari umum, sederhana dan mendasar materi perkuliahan.  Dosen acapkali menyajikan rangkuman yang abstrak, bukan epitome yang mengandung gagasan isi yang konkret, bermakna dan aplikatif. Asesmen belum diaplikasikan secara berkelanjutan.

Di pihak mahasiswa, (1) terlihat gejala menunda-nunda waktu tempuh dan frekuensi pengulangan ikut kuliah, ini menunjukkan  ada indikasi adversity quotient-nya rendah, (2) lokus kendali pada tiap mahasiswa bervariasi tetapi layanan belajar yang diberikan oleh dosen hanya satu pola sehingga tidak memberi kesempatan alternatif yang sesuai dengan variasi pembawaan mahasiswa, (3) kemampuan uji transfer hasil belajar masih lemah, (4) ada kesan bahwa belum mampu terpemenuhinya uji transfer kemampuan pemecahan masalah sebagai kompetensi yang dapat diandalkan dalam kegiatan riil sebagai pendukung profesi mengajar, menciptakan predisposisi sikap yang tidak kondusif dalam belajar pada diri mahasiswa. Oleh karena itu wajar jika sejumlah masalah ini menyebabkan kegagalan dan keterlambatan studi mahasiswa.

Identifikasi lebih jauh tentang permasalahan ini dalam perkuliahan Akuntansi di Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan Pendidikan IPS, FKIP UNLAM  yang perlu segera mendapat penanganan antara lain :

1.      Kendala-kendala pembelajaran apa saja yang terdapat dalam pola pengelolaan belajar kemampuan pemecahan masalah secara kolaboratif untuk kuliah Akuntansi?

2.      Upaya-upaya apakah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi Akuntansi khususnya kemampuan pemecahan masalah pada mahasiswa?

3.      Bagaimana cara mengefektifkan strategi pembelajaran kuliah Akuntansi?

4.      Mengingat kompetensi Akuntansi melibatkan komponen-komponen kemampuan pemecahan masalah yang berjenjang dan prosedural, strategi apakah yang harus diterapkan agar pembelajaran menjadi lebih efektif?

5.      Mengingat kompetensi Akuntansi melibatkan komponen-komponen kemampuan pemecahan masalah yang berjenjang dan prosedural, maka karakteristik sistem asesmen yang bagaimanakah yang tepat untuk menilai kompetensi mahasiswa yang kompleks ini?

6.      Apakah asesmen teman sejawat (peer assessment) sesuai dengan karakteristik pola pengelolaan belajar kolaboratif, pengorganisasian materi untuk kemampuan pemecahan masalah dan dapat lebih menunjukkan keefektifan dalam perkuliahan Akuntansi?

7.      Bagaimanakah proses dan prosedur penerapan asesmen teman sejawat yang sesuai dengan karakteristik mahasiswa, maupun hakikat materi Akuntansi?

8.      Aspek-aspek apa saja yang perlu diases dalam pola pengelolaan belajar kolaboratif untuk kemampuan pemecahan masalah Akuntansi?

9.      Apakah dosen mempertimbangkan faktor pembawaan mahasiswa (lokus kendali, dan ‘adversity quotient’ ) dalam penerapan strategi pembelajaran Akuntansi?

10. Apakah ada pengaruh lokus kendali dan ‘adversity quotient’ terhadap kemampuan pemecahan masalah Akuntansi? Mengapa kedua variabel ini penting dalam pola pengelolaan belajar kolaboratif dan pengorganisasian materi untuk kemampuan pemecahan masalah dalam Akuntansi?

Sejumlah masalah di atas mendorong munculnya gagasan perlunya upaya penelitian pengembangan untuk mengatasinya. Mengingat tuntutan implementasi kurikulum harus memenuhi standar nasional pendidikan, maka penelitian pengembangan ini perlu diarahkan pada pengembangan model sistem asesmen, pengelolaan belajar dan pengorganisasian materi. Sistem asesmen teman sejawat, pola pengelolaan belajar kolaboratif, dan strategi pengorganisasian materi merupakan bagian dari keseluruhan sistem implementasi kurikulum, sehingga memiliki peranan yang besar dalam memberikan kontribusi wacana pengembangan alternatif sistem asesmen dan pola pengelolaan belajar yang sesuai dengan wacana isi standar nasional pendidikan.

Dalam dunia pendidikan di Indonesia pengkajian masalah asesmen alternatif bentuk asesmen teman sejawat yang digunakan dalam pola pengelolaan belajar kolaboratif untuk kemampuan pemecahan masalah khususnya di bidang Akuntansi dan buku-buku penunjang untuk itu masih langka adanya. Tuntutan akan keragaman tentang eksemplar sistem asesmen teman sejawat, pengelolaan belajar kolaboratif, dan strategi pengorganisasian materi dalam konteks implementasi kurikulum di dunia pendidikan sangat penting artinya, mengingat bertambahnya khasanah alternatif model asesmen dan model pembelajaran akan mendorong adanya ragam alternatif peluang tercapainya mutu pendidikan. 

          Berlandaskan pada kajian masalah di muka, maka titik tolak penelitian pengembangan ini bukan untuk menemukan atau mengkonfirmasi teori, melainkan untuk membangun model asesmen dan pola pengelolaan belajar beserta strategi pengorganisasian materi pembelajaran yang dapat dimanfaatkan dalam upaya mengatasi masalah inefisiensi baik internal maupun eksternal dalam pembelajaran Akuntansi.  Disadari bahwa salah satu kunci keberhasilan perkuliahan terletak pada tingkat keefektivan kegiatan belajar-mengajar selama interaksi dosen-mahasiswa berlangsung, di samping program pembelajaran yang digunakan, serta tingkat kemampuan mahasiswa. Akan tetapi hadirnya teknologi informasi yang telah mampu menyediakan begitu luas dan tanpa batas sumber belajar dan adanya keragaman latar individu mahasiswa menimbulkan tuntutan perlunya modifikasi pola interaksi dosen-mahasiswa dalam kegiatan belajar-mengajar, sehingga model asesmen dan model pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini difokuskan pada upaya pengembangan asesmen untuk model pola pengelolaan kegiatan pembelajaran beserta struktur isi materi perkuliahan.

Adapun pola pengelolaan kegiatan belajar yang dikembangkan dalam model ini adalah model pembelajaran kolaboratif dengan pertimbangan bahwa pembentukan kemampuan pemecahan masalah dalam bidang Akuntansi akan lebih memungkinkan dicapai bila dilakukan dengan cara kerjasama yang kolaboratif. Kesuksesan akan dicapai lebih unggul jika dilandasi oleh tabiat dan kebiasaan kesalingtergantungan di antara pebelajar, dan kebiasaan ini menjadikan transfer hasil belajar teruji dalam peristiwa kuliah-kuliah maupun kelak dalam kehidupan profesi di kemudian hari.

          Mengenai pengorganisasian isi materi kuliah sebagai bahan belajar dikembangkan berdasarkan substansi satuan pokok bahasan, dengan pertimbangan bahwa kemampuan pemecahan masalah dalam Akuntansi memerlukan sejumlah syarat minimal yang harus sudah dikuasai melalui aktivitas-aktivitas belajar mengelaborasi pokok-pokok bahasan sebelumnya. Pokok-pokok bahasan dikembangkan secara berjenjang dari kemampuan yang memerlukan elaborasi pemecahan masalah sederhana dan parsial ke pokok bahasan yang memerlukan pemecahan masalah secara kompleks dan komprehensif. Maka dari itu pembentukan kemampuan pemecahan masalah dalam satu bidang studi harus melalui pembentukan berbagai kemampuan pemecahan masalah yang bersifat khusus yang prosedural dan sistematik.

          Dalam penelitian pengembangan ini yang dipilih untuk dikembangkan adalah Akuntansi Jasa, dengan pertimbangan bahwa ragam substansi untuk materi Akuntansi yang prosedural dan paling sederhana lazimnya dimulai dari substansi pemecahan masalah Akuntansi untuk Perusahaan Jasa.

Dalam penelitian pengembangan ini model asesmen teman sejawat diajukan sebagai salah satu alternatif model untuk melihat efektivitas dari pengembangan model. Model asesmen teman sejawat memungkinkan untuk diterapkan dalam pengembangan ini karena memiliki keunggulan dibanding dengan model evaluasi konvensional yang hanya dilakukan dengan menggunakan tes tunggal. Model asesmen teman sejawat dapat memenuhi kebutuhan informasi untuk mendeteksi aktivitas perolehan kompetensi mahasiswa baik pada proses keterlibatan pribadi, inisiatif, evaluasi diri dan dampak yang dialaminya secara berkelanjutan, sehingga minimal dapat memenuhi fungsi “assessment for learning” pada tingkat matakuliah. Hasil pengembangan ini lebih lanjut dapat dimanfaatkan di tingkat asesmen program studi atau jurusan dan fakultas.

Untuk mendukung kegunaan asesmen teman sejawat yang tepat dalam mendeteksi kemajuan  kompetensi Akuntansi khususnya kemampuan pemecahan masalah, maka pengembangannya lebih dititikberatkan pada asesmen kelas (classroom assessment) yang merujuk kepada pola asesmen untuk kerja kelompok (group collaboration in assessment) model yang dikembangkan oleh Noreen Weeb (1994) dan group/peer evaluation yang direferensikan oleh Johnson & Johnson (1987) serta diterapkan oleh Wiersema (2000). Pengembangan perangkat asesmennya merujuk pada model ‘learning logs and journals’ dari Johnson & Johnson (2002:201). Model ini dipandang tepat karena selain menuntut mahasiswa mencatat sendiri (self report) tentang kegiatan yang terkait dengan materi yang dipelajarinya, model ini dapat digunakan untuk mendeteksi kegiatan belajar mahasiswa baik di kelas maupun di luar kelas. Kegiatan belajar di luar kelas termasuk hal-hal yang telah diamati, pemikiran, pendapat, tanggapan, peristiwa dan pengalaman mahasiswa. Melalui model ini terbuka peluang belajar dan dimungkinkan dikembangkannya nilai-nilai solidaritas, kebersamaan atau kolaboratif untuk meraih sukses berupa kemampuan pemecahan masalah melalui kebiasaan kesalingtergantungan di antara mahasiswa.

 Faktor pembawaan mahasiswa berupa variabel ‘lokus kendali’ dan ‘adversity quotient’ dalam belajar melalui persepsi dosen-mahasiswa dalam proses perkuliahan berpengaruh tidak langsung terhadap efektivitas pengembangan kecakapan kemampuan pemecahan masalah. Oleh karena itu disadari bahwa efektivitas optimum dari model pengelolaan belajar, strategi pengorganisasian materi dan model asesmen akan dapat dicapai apabila kegiatan-kegiatan ini dilakukan sesuai dengan pembawaan individu mahasiswa. Kegiatan belajar mahasiswa secara individual maupun kelompok dapat dideteksi melalui model asesmen teman sejawat yang dilakukan pada setiap topik pokok bahasan dalam setiap materi perkuliahan. Pola pengelolaan belajar kolaboratif yang ditawarkan dalam model pengembangan ini dipandang relevan karena dapat mengakomodasi kepentingan-kepentingan belajar yang sesuai dengan faktor pembawaan individu mahasiswa yang beragam.

          Bertolak dari pemikiran di atas dan menyadari adanya berbagai keterbatasan, maka penelitian pengembangan ini akan membatasi diri pada beberapa aspek saja, yakni:

1.      Aspek pengembangan pola pengelolaan belajar secara kolaboratif dan pengorganisasian isi bahan kuliah untuk mata kuliah Akuntansi Jasa pada Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan PIPS, FKIP Universitas Lambung Mangkurat.

2.      Aspek pengembangan model asesmen teman sejawat dengan perangkat ‘learning logs and journals’ dalam basis pola pengelolaan belajar secara kolaboratif untuk kemampuan pemecahan masalah Akuntansi.

3.      Aspek faktor pembawaan mahasiswa berupa lokus kendali dan ‘adversity quotient’ dalam belajar secara kolaboratif untuk pemecahan masalah Akuntansi. 

Kehadiran model  asesmen teman sejawat untuk kompetensi Akuntansi yang berlatar model pengelolaan belajar kolaboratif ini diharapkan dapat meningkatkan mutu perkuliahan, mengurangi kesenjangan antara tuntutan kurikulum yang berlandaskan pada competence based learning dengan kemampuan dosen, dan menghindarkan dosen dari spekulasi dalam melakukan evaluasi dan asesmen atau menggunakan metode pembelajaran. 

Secara teoretik model asesmen teman sejawat yang berlatar model pengelolaan belajar kolaboratif memiliki sejumlah keunggulan untuk mengatasi permasalahan sebagaimana tersebut di atas.  Berangkat dari argumentasi ini maka pokok masalah penelitian dapat dirinci menjadi beberapa pertanyaan untuk pengembangan model sebagai berikut:

1.     Apakah pengembangan model asesmen teman sejawat dan model pengelolaan belajar kolaboratif dapat diakomodasi oleh implementasi kurikulum pada LPTK untuk matakuliah Akuntansi?

2.     Apakah pengembangan model asesmen teman sejawat dan model pengelolaan belajar kolaboratif sesuai dengan karakteristik isi tujuan perkuliahan khususnya pencapaian kompetensi Akuntansi di LPTK?

3.     Apakah pengembangan model asesmen teman sejawat dan model pengelolaan belajar kolaboratif dapat memenuhi prinsip validitas isi, obyektivitas, keterbukaan, keholistikan, keintegratifan dan kebermaknaan menurut isi tujuan perkuliahan pencapaian kompetensi Akuntansi di LPTK?

4.     Bagaimanakah prototipe dan prosedur pengembangan model asesmen teman sejawat kompetensi Akuntansi dan model pengelolaan belajar kolaboratif yang relevan dengan implementasi kurikulum di LPTK?

5.     Bagaimanakah bentuk akhir dari model asesmen teman sejawat dan model pengelolaan belajar kolaboratif untuk pemecahan masalah yang relevan dengan implementasi kurikulum di LPTK?

6.     Apakah model asesmen teman sejawat dengan latar pengelolaan belajar kolaboratif efektif untuk meningkatkan pencapaian kompetensi pemecahan masalah dalam belajar matakuliah Akuntansi bagi mahasiswa? Untuk mengetahui efektivitas secara empiris implementasi dari model asesmen teman sejawat dan model pengelolaan belajar kolaboratif, diperoleh dengan menggunakan desain runtut waktu A-B-A-B (repeating treatments) yang direferensikan Kerlinger & Lee (2000:551) dan Wiersma (1986:158), maka rumusan masalah ini dijabarkan menjadi:

a.      Apakah terdapat perkembangan kemampuan pemecahan masalah Akuntansi (variabel terikat Y) antara mahasiswa yang periode perkuliahannya diases dengan model asesmen teman sejawat (kondisi perlakuan B) dibanding dengan yang periode perkuliahannya diases dengan model asesmen konvensional (kondisi baseline A) pada latar pola pengelolaan belajar secara kolaboratif.

b.      Untuk kelompok mahasiswa yang memiliki ‘adversity quotient’ tinggi (variabel moderator B1) dalam belajar Akuntansi, apakah terdapat perkembangan kemampuan pemecahan masalah Akuntansi (variabel terikat Y) antara mahasiswa yang periode perkuliahannya diases dengan model asesmen teman sejawat (kondisi perlakuan B) dibanding dengan yang perkuliahannya diases dengan model asesmen konvensional (kondisi baseline A) pada latar pola pengelolaan belajar secara kolaboratif, bila dikontrol dengan variabel lokus kendali mahasiswa (variabel kontrol X)?

c.      Untuk kelompok mahasiswa yang memiliki ‘adversity quotient’ rendah (variabel moderator B2) dalam belajar Akuntansi, apakah terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah Akuntansi (variabel terikat Y) antara mahasiswa yang perkuliahannya diases dengan model asesmen teman sejawat (kondisi perlakuan B) dibanding dengan yang perkuliahannya diases dengan model asesmen konvensional (kondisi baseline A) pada latar pola pengelolaan belajar secara kolaboratif, bila dikontrol dengan variabel lokus kendali mahasiswa (variabel kontrol X)?

7.     Apakah model asesmen teman sejawat kompetensi Akuntansi dengan latar model pengelolaan belajar kolaboratif memiliki daya adaptabilitas atau nilai efektif digunakan dosen untuk mendukung kinerja dalam implementasi proses perkuliahan Akuntansi?

 

C. Tujuan Pengembangan

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model asesmen teman sejawat (MATS) untuk kompetensi Akuntansi beserta perangkat instrumennya dan mendesain model pengelolaan belajar kolaboratif (MPK) dan pedoman pelaksanaannya. Model ini lebih lanjut disebut dengan model MATS-MPK. Dalam jangka panjang, MATS-MPK diharapkan dapat memacu setiap dosen untuk melakukan asesmen kompetensi peserta kuliah yang mendukung program evaluasi diri (self-evaluation) pada tingkat asesmen matakuliah. Berikutnya diharapkan dapat memacu program studi untuk melakukan asesmen pada tingkat asesmen program studi untuk mendukung data informasi evaluasi diri (self-evaluation) dan melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan secara berkala dan berkelanjutan untuk meningkatkan efektivitas fungsi-fungsi pengelolaan perkuliahan pada umumnya. MATS-MPK dapat  menjadikan setiap dosen dan program studi mampu menghasilkan mutu lulusan yang sesuai dengan tuntutan baku mutu standar nasional pendidikan.  Pengembangan MATS-MPK dapat mengisi kekosongan  tentang eksemplar masalah asesmen di tingkat mata kuliah khususnya mata kuliah Akuntansi.

Rangkaian proses yang dilalui untuk mencapai tujuan dalam penelitian pengembangan ini antara lain:

Tahap Pengembangan Model

1.      Mendapatkan kejelasan tentang apa yang harus diases mengenai informasi ketika terjadi proses belajar  secara kolaboratif tentang kemampuan pemecahan masalah. Obyek pengamatan yang harus diases ini dipakai sebagai landasan pijak untuk mengembangkan model asesmen. Berikutnya berusaha mendapatkan kejelasan tentang aktivitas fisik sebagai usaha belajar dan tentang apa yang terjadi dalam sistem memori pebelajar, ketika dihadapkan pada suatu masalah yang harus dicari pemecahannya. Bentuk-bentuk aktivitas keterlibatan individu secara fisik dalam usaha mencari sumber belajar pemecahan masalah secara kolaboratif dan proses kerja memori pemecahan masalah ini dipakai sebagai dasar untuk mengembangkan isi materi pembelajaran dan pola pengelolaan belajar secara kolaboratif.

2.      Mempertimbangkan dan memilih metode asesmen, mengembangkan perangkat instrumen,  mengembangkan teknik penyajian informasi hasil asesmen yang relevan dengan strategi dan proses belajar kolaboratif tentang kemampuan pemecahan masalah.

3.      Mengembangkan struktur pengorganisasian isi pembelajaran dan pola pengelolaan belajar kolaboratif yang diajukan untuk mengoptimalkan terjadinya proses belajar kemampuan pemecahan masalah.

Tahap Penerapan Model

4.      Mengembangkan prototipe model asesmen teman sejawat dan prototipe sampel program pembelajaran yang diperlukan untuk mengajarkan kemampuan pemecahan masalah bidang Akuntansi Jasa yang berorientasi pada proses elaborasi melalui langkah-langkah prosedural dan sistematik. Program dimaksud merupakan jabaran dari model yang dikembangkan.

5.      Menguji-coba struktur pengorganisasian isi pembelajaran dan pola pengelolaan belajar kolaboratif yang diajukan yang dituangkan dalam prototipe sampel model asesmen teman sejawat dan model program pembelajaran. Uji-coba ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan hasil skor tes awal dan tes akhir, serta perbedaan skor perolehan di antara dua kelompok sampel yang mewakili calon pemakai pola asesmen dan struktur pengelolaan belajar-mengajar kolaboratif yang diajukan.

          Rangkaian tahapan proses pengembangan model yang pertama, kedua dan ketiga mengacu kepada tiga aspek yang berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan untuk membangun sistem asesmen dan pola pengelolaan belajar yang mantap. Hal pertama dan kedua dari tahapan ini terkait dengan aspek teoritik untuk mendapatkan gambaran tentang fenomena belajar kolaboratif tentang pemecahan masalah dan asesmen yang relevan sebagai landasan untuk menetapkan pola dasar model asesmen dan model pengelolaan belajar kolaboratif. Bertolak dari tahapan proses ini kemudian berlanjut melakukan elaborasi komponen-komponen asesmen dan pengelolaan belajar kolaboratif yang memenuhi kebutuhan individu pebelajar. Hal yang sama dengan tahapan pertama dan kedua, dilakukan pada tahapan ketiga. Substansi yang dikembangkan pada tahapan ketiga adalah aspek sumber belajar pemecahan masalah bidang Akuntansi Jasa. Diawali dengan pengidentifikasian dan elaborasi isi materi yang mengandung pemecahan masalah sederhana hingga yang kompleks, kemudian disusun berjenjang menjadi bagian-bagian integral berbentuk pokok-pokok bahasan yang didesain mengandung kebutuhan transfer belajar pada setiap antar jenjang pemecahan masalah. Dirancang ada 7(tujuh) sampel program pokok bahasan yang terkodifikasi dalam Satuan Acara Perkuliahan (SAP). Elaborasi pada tahapan pertama dan kedua merupakan fokus kegiatan untuk mencapai tahapan ketiga, yakni dengan dihasilkannya bentuk struktur materi isi pembelajaran beserta perangkat asesmennya dan pola pengorganisasian pembelajarannya yang kemudian dikenali dengan Model Asesmen Teman Sejawat Kompetensi Akuntansi dan Model Pembelajaran Kolaboratif  (MATS-MPK).

          Tahapan proses yang keempat dan kelima merupakan aspek praktis untuk melihat bukti empirik hasil penerapan model dimaksud dengan menggunakan sampel program asesmen dan sampel program pembelajaran yang dirancang khusus untuk uji adaptabilitas dan efektivitas model yang dikembangkan. Hasil dari tahapan kelima inilah yang disebut sebagai hasil pengembangan yang terdiri dari pengembangan MATS dan pengembangan MPK.

Kriteria yang dipakai untuk mengukur tingkat pencapaian masing-masing tujuan adalah:

Pertama, penjelasan teoritik tentang hakikat asesmen dan hakikat belajar pemecahan masalah dalam bidang Akuntansi sebagai kompetensi dan aktivitas mental dan fisik yang dilakukan pebelajar pada saat dihadapkan pada suatu masalah bidang Akuntansi secara kolaboratif.

Kedua, pola dasar pengelolaan belajar secara kolaboratif dan pola dasar asesmen teman sejawat beserta elaborasi komponen-komponennya sehingga menjadi model asesmen dan model pembelajaran pemecahan masalah yang relevan dengan kebutuhan di lapangan. Pola dasar dan elaborasi komponen-komponen ini ditelusuri melalui bahan-bahan pustaka yang mendukung.

Ketiga, perangkat instrumen asesmen teman sejawat dan struktur organisasi isi materi menjadi alat uji adaptabilitas dan efektivitas pengembangan kegiatan belajar-mengajar pemecahan masalah dalam kompetensi Akuntansi.

 Keempat, bukti-bukti empirik adaptabilitas dan efektivitas model asesmen dan pola pembelajaran yang ditawarkan untuk mengoptimalkan pencapaian kemampuan pemecahan masalah sebagai kompetensi Akuntansi. Berdasar pada hasil uji empirik ini, maka kesimpulan dan saran ditujukan untuk uji model pengembangan lebih lanjut pada kawasan yang lebih luas melalui deseminasi model oleh pihak lain.

 

D. Hasil yang Diharapkan

Hasil yang diharapkan dari kegiatan pengembangan ini diuraikan sebagai berikut. Untuk pengembangan MATS adalah berupa (1) konstruk dan indikator asesmen teman sejawat kompetensi untuk perkuliahan Akuntansi, (2) seperangkat instrumen asesmen kompetensi Akuntansi, (3) sistem asesmen teman sejawat perkuliahan Akuntansi dan pedoman pelaksanaannya (termasuk penafsiran hasilnya), (4) layanan kegiatan, dan (5) usulan implementasi program asesmen teman sejawat kompetensi Akuntansi. Rambu-rambu yang digunakan sebagai referensi untuk pengembangan MATS adalah ‘group work in assessment’  dari Noreen Webb (1994) dan  ‘group/peer evaluation’ dari Wiersma (2000).

Untuk pengembangan MPK akan diperoleh hasil berupa panduan pengelolaan kegiatan belajar dan pengorganisasian struktur isi materi pembelajaran. Terkait dengan produk pengembangan MPK yang pertama, akan didapatkan (1) bentuk belajar kolaboratif yang dikembangkan berdasarkan pendekatan pembelajaran investigasi kelompok, dengan pertimbangan bahwa kuliah materi Akuntansi sarat dengan pembekalan kemampuan dan keterampilan pemecahan masalah yang preskripsinya dilakukan dengan kerja kelompok, mengutamakan interaksi sosial dalam belajar dan memungkinkan untuk memunculkan suasana kerjasama yang kolaboratif.

Mengenai penataan isi pembelajaran untuk pemecahan masalah dengan pendekatan teori elaborasi akan diperoleh sejumlah satuan acara perkuliahan yang disusun menurut prosedur pemecahan masalah atas dasar pendekatan elaborasi. Pendekatan yang dipakai untuk menyusun isi materi Akuntansi yang memenuhi tujuan belajar kemampuan pemecahan masalah dipilih pendekatan ‘sederhana menuju kompleks’ (simple-to-complex), yaitu penataan isi prosedural berdasarkan pada epitome dengan penyajian prosedur yang paling singkat pada tingkatan aplikasi kemudian diikuti oleh pengelaborasian ke prosedur yang lebih luas dan kompleks. Ditilik dari jenis substansi materi yang dikembangkan, maka hasil pengembangan ini akan menjangkau pada penataan isi prosedural untuk materi Akuntansi Jasa. Komponen-komponen strategi alternatif yang digunakan bereferensikan pada (1) urutan elaborasi, (2) urutan prasyarat belajar, (3) rangkuman, (4) sintesis, (5) analogi, (6) pengaktifan strategi kognitif, dan (7) kontrol belajar oleh pebelajar (Reigeluth, 1983:363-364).

 

E. Pentingnya Pengembangan

Penelitian ini pada dasarnya melakukan introduksi masalah pentingnya pengembangan sistem asesmen alternatif dalam kerangka suatu sistem pengajaran guna memperkecil keterbatasan pada penelitian-penelitian sebelumnya. Penelitian Suharsono (1991) dan Mukhadis (2003) secara umum masing-masing telah menyodorkan model strategi pembelajaran yang penekanannya pada aspek pola pengelolaan kegiatan belajar-mengajar dan pengorganisasian isi pembelajaran secara prosedural, tetapi masih mengesampingkan aspek asesmen sebagai bagian sistem pengajaran. Tes hanya untuk sarana validasi dari model dan bukan sebagai perangkat asesmen.

Pengembangan sistem sesmen ini selain sebagai langkah untuk mengurangi keterbatasan tersebut sekaligus untuk memvalidasi lebih lanjut pengembangan model pengajaran serupa. Disadari bahwa rendahnya mutu pendidikan bukan saja bersumber dari faktor input, tetapi juga dari faktor proses pendidikan. LPTK dengan segala kondisinya yang boleh dikata selalu masih terbatas dilihat dari tuntutan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan kebutuhan stake holder-nya harus selalu berupaya meningkatkan kinerja kelembagaan di semua lini organisasi. Program studi sebagai pengemban perkembangan ilmu dan teknologi dan basis pencetak tenaga guru profesional perlu tanggap setiap saat atas perubahan dan perkembangan dan mampu memanfaatkan data dan informasi evaluasi diri untuk menyusun program perbaikan dan pengayaan dalam menyiapkan, mendidik, dan membina mahasiswa melalui program-program yang relevan secara efektif dan efisien. Mengingat praktik perkuliahan matakuliah Akuntansi diindikasikan masih berjalan belum sesuai dengan tolok ukur ketersediaan informasi yang memungkinkan kegiatan evaluasi dan asesmen yang memenuhi sifat autentik, terbuka, holistik dan integratif, maka perlu dicari suatu model asesmen yang memungkinkan untuk mendukung ketercapaian kompetensi mahasiswa secara baik, reliabel dan yang dapat memprediksi keberhasilan dan kemanfaatan lulusan ditengah-tengah masyarakat dan pengguna di sekolah.

Pencapaian kompetensi Akuntansi bagi mahasiswa calon guru Akuntansi merupakan langkah rasional untuk digagas jika ingin memberi kontribusi dampak perbaikan pada praktik pengajaran di sekolah-sekolah menengah selama ini dan memberi sumbangan antisipasi terhadap tuntutan perkembangan era global yang begitu menantang bagi pengemban ilmu pendidikan di Indonesia.

Untuk mengantisipasi selalu tertinggalnya kualifikasi dan kompetensi lulusan LPTK pengajar Akuntansi di sekolah maka model MATS-MPK merupakan kebutuhan yang mendesak untuk direalisasikan pengembangannya agar relevansi lulusan LPTK dengan tuntutan dunia kerja (sekolah) dapat dimantapkan. Melalui model MATS-MPK memungkinkan mahasiswa untuk dapat memetik pengalaman dan pengetahuan secara internal (self learning) dan mengembangkannya di masyarakat dan sekolah tempat bekerja tentang ketrampilan-ketrampilan penting terutama kemampuan pemecahan masalah untuk dapat berhasil bekerja secara kolaboratif dalam kelompok dan pada gilirannya menularkan pengetahuan dan ketrampilannya dalam mengajar kepada siswa-siswa sehingga memberikan dampak instruksional dan pengiring yang berganda dari proses pembelajaran selama di kampus.

MATS-MPK akan membentuk kebiasaan  mengembangkan penghargaan akan betapa pentingnya bekerjasama dalam suatu kelompok dan mampu memprioritaskan tujuan-tujuan kepentingan kelompok di atas tujuan-tujuan dan kepentingan individu, memupuk rasa tanggungjawab individual dan kelompok sehingga mahasiswa akan dibekali kemampuan memahami apa saja yang harus dilakukan dan bagaimana harus menyelesaikan masalah secara bersama, secara terorganisir dan tepat waktu, terbentuk ketrampilan interpersonal dan kompetensi lainnya yang berguna dalam bekerja secara nyata.

MATS-MPK memberikan bekal pengalaman aktual bagi dosen sebagai pengelola dan fasilitator kuliah untuk dapat merealisasikan strategi pembelajaran dan strategi asesmen pada level asesmen mata kuliah yang autentik, terbuka, holistik dan integratif dan bermakna bagi stake holder terutama mahasiswa dan memenuhi kaidah-kaidah baku mutu perkuliahan yang sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Secara teori MATS-MPK dapat memberi pengayaan khasanah model asesmen dan pengelolaan belajar yang dapat menumbuhkan pemikiran inovatif dan kreatif lebih lanjut,  dikalangan praktisi dan ahli yang berkecimpung dalam pengembangan asesmen dan teori pembelajaran di bidang matakuliah Akuntansi. Untuk kepentingan praktis model pegembangan MATS-MPK sangat relevan dengan tuntutan praktik kurikulum, karena dilandasi oleh pola pembelajaran kolaboratif yang esensinya mengandung prinsip-prinsip pembelajaran menurut kaidah teori belajar konstruktivisme. MATS-MPK dapat diaplikasikan dan dijadikan sebagai salah satu model rujukan bagi dosen pengajar Akuntansi, dosen matakuliah lain, program studi, jurusan dan fakultas untuk dapat mengembangkan model asesmen di tingkat matakuliah yang lain.  MATS-MPK berfungsi mendukung tersedianya data program perkuliahan dan informasi komprehensif tentang evaluasi diri yang berkelanjutan.

 

F. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan

Asumsi yang dipakai dalam pengembangan model asesmen ini dilandasi pola pengelolaan belajar kolaboratif dan prinsip belajar pemecahan masalah dalam kaitannya dengan pengorganisasian isi materi bidang studi  tingkat makro yang bermuara pada prinsip dan asumsi-asumsi dasar berikut, antara lain :

1.      Pembelajaran aktif lebih efektif daripada pasif yang hanya menerima informasi.

2.      Dosen adalah fasilitator, pelatih, atau penolong dan bukannya seorang yang maha bijaksana bergaya di atas panggung.

3.      Pengalaman belajar dan mengajar diperoleh bersama antara mahasiswa dan dosen.

4.      Penyeimbangan antara kegiatan ceramah dan aktivitas kelompok kecil mahasiswa adalah bagian dari peran penting dosen.

5.      Mengambil peran dalam aktivitas kelompok kecil mahasiswa dapat mengembangkan daya kecakapan berpikir tinggi (higher order thinking skills) dan dapat meningkatkan kemampuan individu untuk menggunakan pengetahuannya.

6.      Diterimanya rasa tanggungjawab belajar bagi individu mahasiswa sebagai anggota suatu kelompok, mendorong aktivitas pengembangan intelektualnya.

7.      Menyampaikan gagasan individu dalam suatu kelompok kecil menentukan tingkat kemampuan mahasiswa, mencerminkan hasil proses berpikir dan landasan asumsi yang dipakainya.

8.      Mengembangkan ketrampilan kerjasama dan ketrampilan sosial melalui saling memberi dan menerima membangun kesepakatan kelompok merupakan bagian dari pendidikan budaya.

9.      Setiap individu memiliki pengalaman-pengalaman hasil belajar terdahulu, yang dapat dijadikan unsur-unsur atau penunjuk untuk menemukan cara pemecahan masalah tertentu (Bruner, 1973:234).

10. Setiap orang akan membangun pengetahuan, dengan cara mengaitkan informasi yang baru dengan yang sudah tersimpan dalam memori yang merupakan hasil belajar terdahulu (Ausubel, 1963:42).

11. Pengajaran akan semakin efektif jika diikuti strategi elaborasi, yakni dengan penggunaan epitome yang berisi motivator, analogi dan sintesis dengan menggunakan alternatif rancangan pengajaran jenis konseptual, prosedural, teoritik dan prasyarat belajar (Reigeluth, 1983, tersedia di http://tip.psychology.org/ reigelut.html)

Selain prinsip dan asumsi-asumsi dasar ini, model yang dikembangkan didasarkan pada asumsi berikut:

1.      Kemampuan pemecahan masalah sebagai kompetensi Akuntansi dapat dibentuk dan dikembangkan serta dilakukan asesmen melalui bidang studi yang diajarkan di lembaga pendidikan. Kemampuan ini bersifat khusus dan menjadi bagian integral dari tujuan akhir dari pembentukan kompetensi matakuliah.

2.      Pembentukan dan pengembangan kemampuan pemecahan masalah mempersyaratkan adanya kemampuan transfer belajar pebelajar dari pengetahuan yang diperoleh dari hasil belajar terdahulu. Hasil belajar terdahulu dapat berstruktur konseptual maupun prosedural.

3.      Kerjasama dan kolaboratif antar pebelajar dalam belajar merupakan salah satu penentu upaya pengembangan kemampuan pemecahan masalah dalam bidang studi yang diajarkan di lembaga pendidikan.

4.      Mahasiswa adalah individu pebelajar yang memiliki maksud mengembangkan potensi yang dimiliki dalam belajar. Realita latar belakang individu yang berbeda-beda baik kecakapan maupun pengetahuan yang pernah diperolehnya akan saling menetralisir sehingga variansinya tidak sistematik karena sukses belajar secara kolaboratif lebih menonjolkan kepentingan peran kelompok daripada peran individu.

Hasil pengembangan ini sudah tentu memiliki beberapa keterbatasan mengingat :

Pertama, hanya dikaji pada salah satu materi Akuntansi untuk Perusahaan Jasa. Kompetensi Akuntansi yang harus dikuasai calon guru kawasannya selain Akuntansi Perusahaan Jasa adalah Akuntansi untuk Perusahaan Dagang, Manufaktur, Usaha Nirlaba,  Koperasi dan masih banyak lagi ditinjau dari aspek kedalaman materinya. Maka dari itu hasil pengembangan ini tidak menjangkau untuk pengembangan kompetensi pemecahan masalah secara umum, tetapi hanya direkomendasikan untuk pengembangan kompetensi kemampuan pemecahan masalah Akuntansi dan bidang lain yang struktur pengorganisasian materinya sejenis, dengan kondisi pengelolaan belajar yang sejenis pula.

Kedua, pengembangan ini merupakan usaha rintisan dalam kawasan asesmen untuk bidang garapan materi kuliah yang sifat materinya mengandung isi prosedural, sehingga sangat ditentukan oleh feasibilitas dukungan sumber belajar, makin baik dukungan sumber belajar diduga semakin bagus hasil aplikasinya, begitu sebaliknya; tetapi faktor dukungan sumber belajar sifatnya relatif sehingga sulit dikontrol pengaruhnya dalam telaah pengembangan ini.

Ketiga, karena mahasiswa belajar dengan membawa entry behavior yang beragam ditinjau dari aspek sikap, pengetahuan dan ketrampilan yang lebih banyak telah dibentuk oleh cara-cara kebiasaan belajar pada jenjang pendidikan sebelumnya dan budaya di lingkungan tempat tinggalnya, serta sumber informasi atau bahan belajar yang tanpa batas ruang dan waktu, maka memungkinkan adanya bias dalam mendeteksi perkembangan dan kemajuan kompetensi yang didapat dari hasil terapan  pengembangan ini. Untuk itu hasil telaah dari analisis varians dari desain uji coba dan validasi model akan ditindaklanjuti dengan telaah evaluasi menggunakan pendekatan I-E-O model yang direferensikan oleh Astin (1993).

Keempat, keberhasilan pengembangan asesmen ini sangat ditentukan oleh tingkat kesanggupan dan kemampuan dosen-dosen Akuntansi untuk mengembangkannya, karena disadari tanpa adanya kesungguhan dan kemauan dari dosen maka akan terjadi kendala dalam aplikasinya, juga tergantung pada persepsi pihak kalangan birokrasi yang mengurus kelembagaan fakultas, jurusan dan program studi; untuk itu agar didapatkan produk pengembangan yang baik dan berdaya guna, perlu dibangun kerjasama yang demokratis dan kolaboratif dalam suatu tim kerja antara peneliti sebagai pengembang dengan dosen sebagai praktisi. Kepada kalangan birokrasi perlu disosialisasikan pentingnya pengembangan asesmen di tingkat mata kuliah sebagai salah satu upaya merealisasikan tuntutan baku mutu dalam standar nasional pendidikan. Dengan demikian proses pengembangan dan diseminasi lanjutannya akan dapat berjalan lancar dan didapatkan hasil yang optimal karena melibatkan dosen Akuntansi sebagai praktisi dan didukung oleh penanggungjawab birokrasi di LPTK.

Kelima, secara metodologis pengembangan ini masih meliput uji coba pada kalangan terbatas yakni direncanakan di FKIP Unlam, Banjarmasin  sehingga untuk memenuhi tujuan generalisasi masih memerlukan replikasi dan kaji tindak guna deseminasi lanjutannya. Oleh karena itu kajian kritis dan skeptis dari pengembangan model asesmen dan pengelolaan belajar ini disadari masih selalu dibutuhkan untuk menggagas pengembangan lebih lanjut agar lebih sempurna dan berdaya guna untuk mendukung perbaikan proses pengajaran dalam kuliah. Untuk itu hadirnya peneliti lebih lanjut diharapkan dapat menuntaskan dan mengeliminir berbagai kendala keterbatasan yang terjadi pada temuan penelitian ini.

 

G. Definisi Istilah

Istilah-istilah yang perlu didefinisikan agar diperoleh pemahaman yang sama terhadap konstruk  dari kata atau istilah yang dipakai dalam penelitian ini, yakni :

Pengembangan Model Asesmen Teman Sejawat, yang dimaksud adalah kegiatan merancang suatu produk berbentuk prosedur yang menggambarkan langkah-langkah untuk melakukan penilaian kinerja dan hasil belajar yang melibatkan peran tiap individu (dosen dan mahasiswa)  yang terlibat dalam proses kegiatan belajar secara kolaboratif bersumber pada hasil pengumpulan data dan informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh berorientasi pada tujuan, obyektif, terbuka, dan bermakna dalam praktik perkuliahan.

Kompetensi Akuntansi, yakni penampilan kinerja dari domain pengetahuan, sikap dan ketrampilan dalam bidang Akuntansi yang indikatornya terdiri dari mampu mengenali, mengidentifikasi, menganalisis dan menyusun, serta membuat catatan atas transaksi Akuntansi yang ditampilkan dalam unjuk kerja pemecahan masalah melalui kegiatan proyek atau tugas dalam pembelajaran sesuai dengan butir-butir tujuan perkuliahan materi Akuntansi untuk transaksi keuangan pada perusahaan jasa.

Pendekatan Belajar Kolaboratif, adalah pola pengelolaan kegiatan belajar menggunakan pendekatan model belajar yang mengutamakan interaksi individu dalam kelompok secara kolaboratif atau bersama dalam penyelesaian tugas-tugas belajar, memupuk tanggungjawab bersama dengan cara kerjasama atau kooperatif yang dilandasi oleh falsafah belajar menurut kaidah teori konstruktivisme yakni pengembangan pengetahuan, sikap dan ketrampilan individu yang didapat dari hasil usaha individu dan interaksi sosialnya dalam belajar.

Pendekatan teori elaborasi, yakni preskripsi tentang cara pengorganisasian materi pengajaran dengan mengikuti urutan umum-ke-rinci, dimulai dengan menampilkan epitome atau struktur isi bidang studi yang dipelajari, kemudian diikuti elaborasi bagian-bagian yang ada dalam epitome secara lebih rinci.

Penelitian ini secara operasional membangun sebuah sarana yang disebut model untuk mengembangkan pola pembelajaran dan melakukan asesmen tentang pencapaian kompetensi mahasiswa dalam perkuliahan Akuntansi Jasa di LPTK untuk memberi informasi dan balikan atas kegiatan pembelajaran dan mengukur ketercapaian kompetensi sesuai dengan tuntutan standar nasional pendidikan.